Menyibak Pembuangan Limbah Padat PT Bukara di Hamparan Perak dan Medan Marelan

/ Kamis, 16 Mei 2019 / 01.36.00 WIB


POSKOTASUMATERA.COM-MEDAN-Mata masyarakat terbelalak dengan diamankan polisi satu unit Truk Colt BM 8478 FQ warna kuning 8 Mei 2019 membawa limbah produksi PT Bumi Karyatama Raharja (Bukara). Wartawan pun mencoba menyingkap cerita pembuangan limbah padat berwarna kuning itu.

Selama ini, sisa industri Bleaching Earth berbahan sisa pencucian Bentonite bercampr Asam Sulfat (H2SO4) yang air pencuciannya dicampur dengan Kapur Tohor yang menghasilkan campuran zat berwarna kuning disebut warga sekitar ‘Tanah Kuning Bukara’.

Mendengar nama tanah, tentunya bisa digunakan untuk menimbun lahan rendah, kolam dan lain-lain. Selama ini, hal itulah yang berlangsung di sekitar Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deliserdang dan Kecamatan Medan Marelan Kota Medan.

Dikutip dari website Wikipedia Kapur Tohor alias Kapur Gaping atau Kapur tohor, atau dikenal pula dengan nama kimia kalsium oksida (CaO), adalah hasil pembakaran kapur mentah (kalsium karbonatatau CaCO3) pada suhu kurang lebih 90 derajat Celcius. Jika disiram dengan air, maka kapur tohor akan menghasilkan panas dan berubah menjadi kapur padam (kalsium hidroksida, CaOH). Saat kapur tohor disiram dengan air, terjadi reaksi sebagai berikut: CaO (s) + H2O (l) Ca(OH)2 (aq) (ΔHr = −63.7 kJ/mol of CaO).

Reaksi kapur tohor dengan air yang memberikan energi berupa panas, telah lama diketahui dan dimanfaatkan untuk memasak dengan biaya yang murah. Catatan mengenai hal ini sudah dibuat oleh Al Razi dari Persia, namun belum terpikirkan untuk kegunaannya dalam memasak. Barulah pada era Victoria potensinya mulai disadari sebagai pengganti bahan bakar yang umum. Dan kini dipertimbangkan untuk makanan kaleng yang bisa memanaskan dirinya sendiri. Kapur tohor yang dipanaskan hingga suhu 2400 derajat Celcius menghasilkan cahaya terang. Sifat ini dimanfaatkan dalam pembuatan panggung teater sebelum adanya lampu listrik. Dampak bagi manusia, Kapur Tohor dapat mengakibatkan alergi atau gatal-gatal.

Namun penyebutan, nama ‘Tanah Kuning Bukara’ atas limbah sisa produksi perusahaan penghasil Bleaching Earth ini memang telah dikenal lama oleh masyarakat yang tak tahu dimulai sejak kapan digunakan sebagai tanah timbun.

Namun, aksi pembuangan limbah PT Bukara beralamat Jalan Perintis Kemerdekaan Dusun I Pauh Desa Hamparan Perak membuat masyarakat terbelalak setelah diamankan polisi. Mencuat khabar bermacam-macam. Lalu, bagi limbah yang telah dijadikan timbunan atas tanah juga dipertanyakan dampaknya. Namun masyarakat masih menunggu hasil penyelidikan polisi atas masalah itu.

Selanjutnya, atas penggunaan Asam Sulfat (H2SO4) dalam produksinya, sesuai informasi di laman Wikipedia Sifat-sifat asam sulfat yang korosif diperburuk oleh reaksi eksotermiknya dengan air. Luka bakar akibat asam sulfat berpotensi lebih buruk daripada luka bakar akibat asam kuat lainnya, hal ini dikarenakan adanya tambahan kerusakan jaringan dikarenakan dehidrasi dan kerusakan termal sekunder akibat pelepasan panas oleh reaksi asam sulfat dengan air.
Bahaya akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi asam sulfat. Namun, bahkan asam sulfat encer (sekitar 1 M, 10%) akan dapat mendehidrasi kertas apabila tetesan asam sulfat tersebut dibiarkan dalam waktu yang lama. Oleh karenanya, larutan asam sulfat yang sama atau lebih dari 1,5 M diberi label "CORROSIVE" (korosif), manakala larutan lebih besar dari 0,5 M dan lebih kecil dari 1,5 M diberi label "IRRITANT" (iritan). Asam sulfat berasap (oleum) tidaklah dianjurkan untuk digunakan dalam sekolah oleh karena bahaya keselamatannya yang sangat tinggi.
Perawatan pertama yang standar dalam menangani tumpahnya asam sulfat ke kulit adalah dengan membilas kulit tersebut dengan air sebanyak-banyaknya. Pembilasan dilanjutkan selama 10 sampai 15 menit untuk mendinginkan jaringan disekitar luka bakar asam dan untuk menghindari kerusakan sekunder. Pakaian yang terkontaminasi oleh asam sulfat harulah dilepaskan dengan segera dan segera bilas kulit yang berkontak dengan pakaian tersebut.
Sedangkan dalam perdagangan Asam Sulfat diatur dengan Peraturan Menteri Perdagangan RI dan Peraturan Kapolri.

Banyak komentar masyarakat atas Limbah PT Bukara itu. Khairul misalnya mengaku terkejut dengan diamannya truk pengangkut tanah kuning (limbah PT Bukara,red) itu. Pasalnya selama ini diketahuinya, limbah padat berwarna kuning itu kerap digunakan warga Medan Marelan untuk menimbun tanah rendah atau kolam.

"Kalau diamankan polisi, kemungkinan ada pelanggaran hukumnya lah itu. Kalau bisa, diusut tuntas. Kalau terbukti melanggar hukum harus ditindak hingga penanggungjawabnya. Lalu limbah yang ditimbunkan dilahan warga harus diperjelas dampak lingkungannya," tegas warga Kelurahan Terjun Medan Marelan ini, Rabu (15/5/2019).

Dia menyayangkan, lemahnya peran instansi tekhnis Lingkungan Hidup dalam menyampaikan masalah-masalah terkait limbah atau zat yang dihasilkan sisa industri di daerahnya.
   
Atas penggunakan limbah PT Bukara secara umum di Hamparan Perak dan Medan Marelan ini diharapkan Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Utara melakukan pemantauan dan pembelajaran pada masyarakat agar tak menimbulkan dampak negatif.

Dikonfirmasi wartawan via ponselnya, Legal PT Bukara Fredy Simamora SH, Selasa (14/5/2019) tak menampik digunakannya limbah PT Bukara untuk tanah timbun. Namun dia berdalih, penggunaan Tanah Kuning itu atas permintaan warga.

“Itu atas permintaan warga. Bukan limbah, warga menyebutnya tanah kuning,” ujarnya diseberang ponsel.

Diberitakan sebelumnya, Polisi yang mengamankan truk pengangkut limbah sisa produksi PT Bukara dan memboyongnya ke Polres Belawan dan pantauan wartawan hingga, Selasa (14/5/2019) masih di berada di halaman Mako Polres Pelabuhan Belawan.


Menurut keterangan sumber wartawan di Mako Polres Belawan, truk tersebut masih diamankan dalam penyelidikan dugaan pelangaran UU Lingkungan Hidup yang masih dilakukan penyelidikan.


Kasat Reskrim Polres Belawan, AKP Jerico Lavian Chandra yang dihubungi wartawan di ruang kerjanya tak berada ditempat. Menurut keterangan Kasat Reskrim muda dan enegrik masih tugas luar ke Jakarta.


Sumber wartawan menyebutkan, PT Bukara memproduksi Bleaching Earth untuk penjernih minyak goreng di Pasarkan untuk dalam dan luar negeri. “Hasil industri PT Bukara adalah bleaching earth bahan penjernih minyak goreng yang dipasarkan dalam dan luar negeri,” ujarnya.


Disebutkan sumber, dalam produksi bahan dasar nya adalah tanah liat kering (Bentonite) asal India  dicampur Asam Sulfat (H2SO4) yang dimasak (Steam) selama 12 jam lalu dicuci (washing) dengan air dan diendapkan. Setelah itu dilakukan pemisahan bahan produksi bleaching earth dan air yang dicampur dengan kapur tohor selanjutnya dipress hingga menjadi limbah berwarna kuning dan air sisa diolah di Instalasi pengelohan air limbah.


Staff PT Bukara Fredy Simamora SH yang dihubungi via ponsel, Selasa (14/5/2019)  tak banyak berkomentar. Awalnya dia mengarahkan wartawan menemui staff lain bernama Alek, namun staff yang disebut enggan menemui wartawan.


Selanjutnya Fredy Simamora SH mempersilahkan wartawan memberitakan pengamanan truk pengangkut limbah PT Bukara itu yang selanjutnya akan dilakukan Hak Jawab manajemen. “Silahkan aja beritakan, nanti kami (PT Bukara,red) kan ada hak jawab,” ujarnya.


Dia juga meminta wartawan menghubungi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Deli Serdang guna meminta keterangan atas kewajiban pelaporan pengelolaan Lingkungan yang dilakukan PT Bukara. “Kalau laporan pengelolaan lingkungan silahkan saja hubungi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Deli Serdang,” katanya.


Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Deli Serdang melalui Sekretarisnya Ibu Era dihubungi wartawan via ponselnya, Selasa (14/5/2019) belum bisa berkomentar karena sedang mengikuti rapat. (PS/DIAN WAHYUDI)


Komentar Anda

Terkini: