Pemko Medan dan RGM Diminta Serius Selamatkan Belawan Agar Tidak Tenggelam.

/ Selasa, 07 September 2021 / 21.35.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM-BELAWAN-Sejumlah anggota Presidium Lintas Eksponen 98 Sumut terdiri dari Rafdinal SSos.MAP, Tengku Yans Fauzi. SE dan Rommy Sanjaya SE, berkunjung ke Belawan bertemu dengan pengurus Forum Anak Belawan Bersatu (FABB) untuk melakukan observasi dan investigasi pendahuluan guna melihat kondisi nyata yang terjadi berkaitan dengan bencana banjir rob yang kerap melanda Medan Utara. 

Pada kesempatan ini beberapa orang mantan Aktivis 98 Sumatera Utara didamping Ketua Umum FABB R. Khairil Chaniago, Sekretaris Umum, Oktapiandi dan Ketua Bidang Pemanfaatan kawasan Pesisir dan perikanan, Haris Safii menyempatkan untuk berdialog dengan masyarakat di belawan untuk mengungkap apa saja faktor – faktor penyebab hingga Kota Belawan dan Kecamatan lainnya di Medan Utara mengalami nasib yang cukup memprihatinkan ini. Kunjungan berlangsung, Selasa (07/09/2021).

Rafdinal S.Sos. MAP mengatakan, situasi Medan Utara, khususnya Belawan saat ini ternyata tidak berada dalam kondisi yang menguntungkan bagi masyarakat yang mendiaminya.

"Padahal kita tahu bahwa Kota Belawan adalah pintu gerbang wilayah barat perekonomian nasional, sebuah Kota kecil tetapi mampu memberikan kontribusi finansial yang cukup besar, baik bagi daerah dan nasional. Ini mengindikasikan bahwa Pemerintah Kota Medan dan Provinsi Sumatera Utara gagal dalam mengelola Kota pelabuhan terbesar ketiga di Republik ini," katanya.

Dijelaskannya, indikasi kegagalan tersebut cukup jelas terpampang di depan mata, dimana pada setiap bulannya hampir 90 persen wilayah Kota Belawan tenggelam dilanda air pasang laut atau dikenal dengan istilah banjir rob.

"Hal seperti ini sewajarnya tidak perlu terjadi jika kepekaan pemerintah tinggi dalam melakukan telaah akar masalah dan upaya penyelesaiannya, ujar aktivis yang kerap dipanggil Buya tersebut.

Lebih lanjut Rafdinal menegaskan, lazimnya kerusakan yang terjadi pada sebuah zona utama tidak terlepas dari rusaknya zona penyangga atau buffer zone.

Jika dilihat dari fungsi dan perannya, Kota Belawan ini adalah sebuah zona utama, dan zona penyangganya adalah kawasan ekositem mangrove di kelurahan sicanang, dan bagan deli, serta dua kawasan ekosistem mangrove yang ada di sisi timur dan baratnya yaitu wilayah Sungai Dua dan Paluh Kurau yang saat ini secara dominan telah mengalami alih fungsi menjadi areal pertambakan dan perkebunan kelapa sawit. 

"Sederhananya adalah jika Pemko Medan dan Pemprovsu memiliki komitmen untuk menata Kota Belawan, maka sikapi dengan lebih serius kerusakan yang terjadi di zona penyangga tersebut dengan melakukan upaya – upaya pemulihan kawasan mangrove dan pengaturan zonasi serta pengawasan yang berkeadilan pada lingkungan dan masyarakat," katanya.

Jangan sampai untuk keuntungan ekonomi segelintir orang, kemudian menyebabkan puluhan ribu masyarakat mengalami kerugian, dan ini juga perlu menjadi catatan untuk Badan Restorasi Gambut dan Manggrove (BRGM) agar tidak tidur menutup mata atas apa yang terjadi di kawasan utara Medan ini.

Berdasarkan dialog bersama masyarakat  yang mengelola Ekowisata Nelayan Cinta Manggrove diperoleh informasi, saat ini telah terjadi penutupan paluh – paluh sungai (anak sungai) diantaranya Paluh Nirih Bungkuk, Paluh Pisang Emas, Paluh Gergaji, Paluh Sagur, Paluh Hiu, Paluh Simpang Empat serta beberapa Paluh besar dan kecil lainnya, sehingga hal ini menyebabkan terjadinya sekatan sebaran air pasang laut, dalam arti wilayah sebaran air pasang laut menjadi semakin mengecil dan akhirnya meluber ke wilayah pemukiman masyarakat dan Kota Belawan. 

Disamping itu situasi penutupan paluh–paluh ini oleh para pengusaha tambak dan perkebunan kelapa sawit tersebut ikut mempersempit ruang tangkapan nelayan kecil yang mencari kepiting, ikan dan udang serta dikhawatirkan akan kembali menciptakan konflik horizontal antar nelayan kecil yang berebut mencari rejeki yang juga hasilnya hanya sekedar untuk menyambung hidup.

"Hal ini merupakan sebuah ironi, maka kami baik anggota maupun presidium Lintas Eksponen 98 Sumatera Utara sangat mendukung perjuangan rekan–rekan FABB untuk kemaslahatan masyarakat yang mendiami kawasan Medan Utara ini, khususnya dalam menyelamatkan Kota Belawan agar tidak terancam tenggelam, apalagi Bung Khairil Chaniago yang saat ini memimpin FABB adalah bagian dari kami juga, maka perjuangan beliau tetap menjadi perjuangan kami,"tegas Rafdinal. (PS/DIAN)



Komentar Anda

Terkini: