POSKOTASUMATERA.COM-TAPANULI SELATAN – Kekhawatiran menyelimuti warga di kawasan Dusun Pengkolan, Desa Luat Lombang, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan (Tapsel), setelah jalan nasional yang menjadi urat nadi transportasi Tabagsel menuju Medan amblas sepanjang 20 meter, Rabu (24/9/2025). Retakan tanah yang menganga tepat di badan jalan itu membuat masyarakat resah, sebab akses utama yang mereka andalkan setiap hari bisa terputus kapan saja.
Sejak pagi, warga sekitar berkerumun di tepi jalan. Beberapa tampak menatap cemas setiap kendaraan besar yang melintas. “Kalau jalan ini putus, habis kami. Mau ke Medan atau sekadar antar hasil tani ke Padangsidimpuan, tak ada lagi jalan lain yang dekat,” ucap Rudi, seorang warga yang sehari-hari mengangkut kopi dari Sipirok ke pasar.
Bupati Tapsel, H. Gus Irawan Pasaribu, yang baru saja tiba dari Jakarta, langsung turun ke lokasi. Ia terlihat berbincang dengan aparat desa dan warga, sambil memantau kondisi retakan jalan yang makin melebar. “Saya khawatir betul akses ini bisa putus total. Kalau itu terjadi, jalur kendaraan dari Padangsidimpuan atau Madina ke Medan harus memutar lewat Labuhan Batu, tambah lebih 100 kilometer dan 2 jam perjalanan. Dari sisi ekonomi, kerugiannya luar biasa besar,” ujarnya dengan nada serius.
Kekhawatiran Bupati bukan tanpa alasan. Sejarah mencatat, jalur nasional di kawasan Batu Jomba–Aek Latong memang rawan bencana dan kerap memakan korban. Banyak warga Tabagsel masih trauma dengan peristiwa bus jatuh ke jurang di Aek Latong pada 2011 yang menewaskan 19 orang. “Jangankan puluhan korban, satu nyawa pun sangat berarti. Karena itu kami ingin solusi permanen,” tambah Gus Irawan.
Kondisi jalan nasional di Tapsel yang jauh dari kata layak sering membuat masyarakat merasa dianaktirikan. Dibandingkan Tapanuli Utara (Taput), infrastruktur jalan di Tabagsel dinilai jauh tertinggal. “Ini satu-satunya konektivitas utama kami. Tidak ada tol yang masuk ke Tapsel, rel kereta pun berhenti di Labuhan Batu. Kalau jalan ini putus, ibarat urat nadi kami terpotong,” jelasnya.
Di tengah keresahan itu, warga tetap berharap ada perhatian cepat dari pemerintah pusat. Gus Irawan menegaskan sudah berkomunikasi dengan Komisi V DPR RI dan Kementerian PUPR agar penanganan segera dilakukan. Ia juga meminta mitigasi bencana diprioritaskan, mengingat September adalah puncak musim hujan.
“Tabagsel tidak boleh lagi jadi korban perasaan dianaktirikan. Kami butuh solusi yang nyata. Mudah-mudahan di masa pemerintahan Presiden Prabowo, persoalan jalan nasional Batu Jomba ini bisa tuntas,” ungkapnya penuh harap.
Di lokasi, aparat Dishub, BPBD, Camat Sipirok, hingga babinsa dan bhabinkamtibmas tampak berjaga. Sementara warga, dengan wajah tegang, terus menanti kabar baik agar jalan yang menghubungkan mereka dengan dunia luar tidak benar-benar putus.(PS/BERMAWI)
