Kepala Perumda Tapsel Malintang Harahap Menyamlak di Lomasi desa Sihopur
POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Putusnya akses menuju Desa Sihopur, Kecamatan Angkola Selatan, bukan hanya memutus jalur fisik antara desa dan pusat pelayanan, tetapi juga memutus harapan ratusan warga yang bergantung pada aliran air bersih dari wilayah tersebut. Hingga Jumat (28/11/2025), tim teknis Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Cabang Tapanuli Selatan belum berhasil mencapai titik kerusakan pipa akibat jalan yang benar-benar terisolasi.
Di balik tumpukan tanah longsor dan pepohonan tumbang, terdapat jalur pipa transmisi utama yang kini berubah menjadi puing. Sedikitnya 100 meter pipa hancur total, terseret campuran lumpur dan batu besar yang meluncur deras saat pergerakan tanah terjadi. Kerusakan ini membuat aliran air ke sejumlah desa dan sebagian wilayah Kota Padangsidimpuan terhenti mendadak sejak dua hari lalu.
Kepala Perumda Tapsel, Malintang Harahap, menyebutkan bahwa timnya telah bersiap turun sejak pagi. Namun perjalanan mereka terhenti di tengah jalan. Tidak ada jalur alternatif, tidak ada akses untuk membawa pipa pengganti, dan alat berat pun mustahil menembus lokasi. “Kami memohon maaf kepada seluruh masyarakat. Kerusakan bertambah parah, dan panjang pipa yang putus kini lebih dari seratus meter. Kondisi lapangan benar-benar sulit,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Di Sihopur sendiri, warga hanya bisa pasrah menyaksikan jalur air yang selama ini menjadi nadi kehidupan kini terlelap di bawah reruntuhan tanah. Sementara itu, tim teknis Perumda tidak dapat memaksakan diri karena kondisi tanah masih labil. Retakan terus meluas dan suara pergeseran batu kerap terdengar, menjadi tanda bahwa longsor susulan bisa terjadi kapan saja. “Keselamatan petugas adalah yang utama. Kami tidak ingin mengambil risiko di tengah kondisi ekstrem seperti ini,” lanjut Malintang.
Kerusakan terparah terdapat pada jalur pipa yang menghubungkan Desa Sihopur dan Desa Siamporik—rute vital yang mengalirkan air ke ribuan pelanggan. Di titik ini, pipa besar berdiameter puluhan sentimeter tampak terlipat, patah, dan sebagian terkubur. Bagi warga, ini bukan sekadar pipa yang rusak, tetapi jalur kehidupan yang sehari-hari mereka andalkan untuk memasak, membersihkan rumah, hingga memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
Untuk sementara, Perumda Tapsel menurunkan mobil tangki ke beberapa kawasan permukiman. Namun langkah ini hanya solusi sesaat. Kapasitasnya terbatas, jarak tempuhnya panjang, dan kebutuhan masyarakat jauh lebih besar dibanding stok air tangki. “Kami berharap cuaca membaik dan alat berat bisa masuk. Begitu akses terbuka sedikit saja, tim kami langsung bergerak,” tegas Malintang.
Saat ini pemerintah desa, BPBD, dan pihak terkait terus berupaya membuka kembali akses menuju Sihopur. Suara mesin alat berat mulai terdengar, meski pekerjaan diperkirakan tidak mudah. Di tengah ketidakpastian itu, masyarakat diminta bersabar dan tetap berhati-hati. Perumda Tapsel menegaskan komitmennya untuk turun secepat mungkin begitu jalur dapat dilalui.
(PS/BERMAWI)
