POSKOTASUMATERA.COM-HUMBAHAS,-Langit Humbang Hasundutan masih diselimuti mendung ketika rombongan BKPSDM Humbang Hasundutan bergerak menuju Desa Panggugunan, wilayah perbatasan Kecamatan Onan Ganjang dan Kecamatan Pakkat yang luluh lantak akibat banjir dan longsor.
Di tengah jalan yang terputus, bebatuan yang menghalangi, serta tanah liat yang licin seperti minyak, pemerintah daerah tak gentar. Mereka melangkah dengan satu tujuan: menyampaikan bantuan kepada warga yang menunggu dengan penuh kecemasan.
Di barisan paling depan, Kepala BKPSDM Humbang Hasundutan, Benyamin Nababan, memimpin langsung misi kemanusiaan ini. Kehadirannya bukan sekadar formalitas, tetapi benar-benar menjadi simbol bahwa pemerintah tidak hanya memerintah dari jauh — melainkan hadir, berjalan bersama, dan merasakan penderitaan masyarakatnya.
Perjalanan menuju Desa Panggugunan tidak mudah. Tumpukan material longsor masih menutupi sebagian besar jalur, membuat kendaraan terhenti berkali-kali. Tim harus turun tangan, mengangkat bongkahan kayu, memindahkan tanah, dan menembus jalanan licin yang sewaktu-waktu bisa kembali amblas.
Namun justru di tengah tantangan itu terlihat tekad pemerintah yang tidak pernah surut. Tidak ada raut lelah yang diperlihatkan — hanya semangat untuk membawa secercah harapan bagi warga yang tengah berjuang menghadapi masa sulit.
Sesampainya di lokasi, warga menyambut tim dengan wajah yang telah lama menunggu uluran tangan. BKPSDM Humbang Hasundutan menyerahkan bantuan yang sangat dibutuhkan, antara lain:
- Sembako lengkap untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga
- Pakaian layak pakai, menggantikan pakaian yang basah dan rusak
- Sabun serta perlengkapan kebersihan, penting untuk menjaga kesehatan pascabencana
- Makanan ringan dan mie instan, terutama untuk anak-anak
- Air mineral, yang sangat krusial setelah aliran air terganggu
- serta berbagai kebutuhan harian lain yang sulit diperoleh setelah akses desa terisolasi.
Bagi sebagian orang, barang-barang tersebut mungkin sederhana. Namun bagi warga Panggugunan yang berhari-hari terputus dari akses, bantuan itu terasa seperti nyala lilin di tengah kegelapan.
Di sela-sela pembagian bantuan, beberapa warga tidak mampu menahan air mata. Ada yang kehilangan ladang, ada yang rumahnya tergerus banjir, ada pula yang hingga kini belum bisa kembali beraktivitas normal.
Kehadiran pemerintah, terutama kedatangan langsung Kepala BKPSDM, menjadi penopang moral yang tak ternilai. Dalam kasus bencana, kehadiran seorang pemimpin bukan hanya simbol — melainkan kekuatan yang membuat masyarakat merasa tidak ditinggalkan.
Meskipun situasi medan masih berbahaya, tim pemerintah terus melanjutkan pendistribusian. Jalur terjal dan tanah yang masih labil tidak menghalangi komitmen mereka.
Aparat desa, relawan, dan masyarakat bekerja bahu-membahu, membuktikan bahwa di tengah bencana sekalipun, semangat gotong-royong tidak pernah padam di Humbang Hasundutan.
Benyamin Nababan menegaskan bahwa bantuan ini hanyalah awal dari rangkaian panjang upaya pemulihan yang akan dilakukan pemerintah daerah. Langkah-langkah lanjutan telah disiapkan, antara lain:
- Normalisasi akses jalan yang tertutup longsor
- Pemulihan jaringan air bersih
- Pendataan kerusakan rumah dan lahan
- Antisipasi terhadap potensi longsor susulan
- Koordinasi lanjutan untuk distribusi bantuan gelombang berikutnya
Ia menekankan bahwa pemerintah akan tetap hadir sampai warga benar-benar pulih dan mampu berdiri kembali.
Penyaluran bantuan di Desa Panggugunan bukan hanya soal logistik — tetapi tentang nilai kemanusiaan. Tentang bagaimana pemerintah dan masyarakat saling menggenggam tangan di saat yang paling rapuh. Tentang bagaimana bencana dapat menghancurkan jalan dan bangunan, tetapi tidak pernah mampu meruntuhkan kepedulian.
BKPSDM Humbang Hasundutan hadir bukan sekadar untuk melihat, tetapi untuk bergerak. Bukan untuk menonton, tetapi untuk menolong. Bukan untuk menjaga jarak, tetapi mendekat dan membawa harapan. (PS/BN).
.jpg)