Polantas Menyapa di SMKN 1 Batangtoru: Ketika Edukasi Keselamatan Menjadi Cerita Kepedulian untuk Masa Depan Remaja

/ Senin, 17 November 2025 / 18.38.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Suasana halaman SMKN 1 Batangtoru tampak berbeda pada Senin pagi itu. Ratusan siswa berdiri berbaris rapi, sebagian masih mengatur napas selepas menempuh perjalanan panjang menuju sekolah. Namun pandangan mereka serentak mengarah ke podium ketika Kapos Lantas Batangtoru, AIPTU Eddi Dalimunthe, S.H., M.H., berdiri sebagai pembina upacara. Yang hadir bukan sekadar sosialisasi, tetapi sebuah percakapan hangat tentang hidup, harapan, dan bagaimana cara menjaga diri setiap kali berada di jalan raya.


Bagi banyak siswa, kegiatan Polantas Menyapa terasa seperti cermin yang memantulkan rutinitas mereka. Ada yang setiap hari melaju di jalan desa yang sempit, ada yang terbiasa dibonceng tanpa helm, dan ada pula yang menyimpan luka karena pernah kehilangan kerabat akibat kecelakaan lalu lintas. Di sinilah pendekatan humanis dari kegiatan ini terasa begitu kuat: bukan hanya memberi informasi, tetapi menyentuh sisi paling personal dalam diri para remaja.


Kepala SMKN 1 Batangtoru, Hamonamgan Harahap, M.A., tampak menyimak setiap sesi dengan perhatian penuh. Ia memahami betul bagaimana dunia remaja bekerja—penuh keberanian, rasa ingin tahu, dan kadang kurang memahami risiko. “Anak-anak kita sedang berada pada fase mencoba banyak hal. Mereka bersemangat, tetapi sering lupa bahwa keselamatan adalah prioritas. Karena itu, kehadiran Polantas bukan sekadar memberi aturan, melainkan memastikan mereka pulang dengan selamat setiap hari,” ujarnya lirih namun mengandung ketegasan seorang pendidik yang memikul harapan banyak orang tua.


Saat berbicara, AIPTU Eddi Dalimunthe tidak berdiri sebagai seorang polisi, tetapi sebagai seorang ayah. Ia membagikan pengalamannya menangani kasus kecelakaan yang menimpa remaja—bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membuka mata. “Banyak kecelakaan melibatkan pelajar. Kadang hanya karena helm tak dikancingkan, atau memacu motor demi mengejar waktu. Kami tidak ingin satu pun dari adik-adik di sini menjadi angka dalam laporan kecelakaan,” ucapnya dengan nada hangat yang menembus keheningan.


Pada sesi interaktif, para siswa diajak mengamati perilaku lalu lintas di sekitar sekolah. Mereka mencatat pelanggaran kecil hingga potensi bahaya besar. Beberapa siswa tampak terkejut setelah menyadari bahwa banyak pengendara yang abai terhadap keselamatan. Bagi mereka, ini bukan lagi teori buku pelajaran—ini adalah kenyataan yang setiap hari mereka saksikan.


Salah satu siswi, Rina (16), tak bisa menyembunyikan perubahan cara pandangnya. “Dulu saya merasa biasa saja kalau dibonceng tanpa helm. Tapi setelah lihat contoh kasus dan datanya, saya jadi takut sendiri. Saya ingin pulang selamat untuk ibu saya,” ucapnya sambil menahan haru.


Kepala sekolah menegaskan bahwa edukasi seperti ini harus menjadi bagian dari budaya sekolah. “Kami ingin SMKN 1 Batangtoru bukan hanya menjadi tempat belajar ilmu, tetapi tempat anak-anak belajar hidup. Keselamatan adalah pelajaran yang harus mereka bawa hingga masa depan,” tegas Hamonamgan.


Melalui program Polantas Menyapa, Satlantas Polres Tapsel berharap dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya patuh aturan, tetapi juga memiliki kesadaran mendalam untuk menghargai hidup. Dengan pendekatan empatik, dialog terbuka, dan data yang menggugah, para remaja diajak menjadi agen perubahan bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

Bagi para siswa SMKN 1 Batangtoru, hari itu menjadi lebih dari sekadar penyuluhan. Itu adalah pengingat lembut bahwa mereka berharga, dicintai, dan layak tiba di rumah dengan selamat setiap hari.(PS/BERMAWI)


Komentar Anda

Terkini: