Oleh Syamsul Lubis S.Pd M.Pd (Guru SMAN 1 Padangsidimpuam
POSKOTASUMATERA.COM – PADANGSIDIMPUAN –Di tengah senyapnya sore yang perlahan menuju azan magrib, sekelompok remaja tampak berkumpul di bawah cahaya lampu di sudut jalan Kota Padangsidimpuan. Usia mereka sekitar 15 hingga 18 tahun. Sebagian mengenakan kupiah, sebagian lagi masih menyampirkan sarung di bahu selepas dari masjid. Awalnya, pertemuan itu tampak seperti obrolan biasa anak muda Ramadadhan.
Namun, setelah ditelusuri, ternyata mereka tengah menyepakati jadwal dan lokasi sebuah perlombaan—bukan balap motor liar, melainkan balap lari jarak pendek di jalanan. Fenomena ini dikenal sebagai atletik jalanan atau sprint jalanan. Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya pada bulan Ramadan, aktivitas ini semakin marak dan menjadi tren di kalangan remaja.
Berbeda dengan balap motor liar yang berisiko tinggi dan meresahkan masyarakat, sprint jalanan relatif minim biaya, tidak menimbulkan kebisingan berlebih, dan lebih menekankan pada kemampuan fisik. Dari perspektif ilmu keolahragaan, aktivitas lari sprint melatih komponen biomotor seperti kecepatan (speed), daya ledak (power), koordinasi, serta respons neuromuskular yang sangat penting dalam pembinaan atlet usia remaja.
Secara fisiologis, latihan sprint berdurasi pendek dengan intensitas tinggi memanfaatkan sistem energi anaerobik alaktasid (ATP-PC system). Sistem ini efektif meningkatkan kapasitas otot dalam menghasilkan tenaga maksimal dalam waktu singkat. Menariknya, pelaksanaan sprint pada sore hari menjelang berbuka juga dapat menjadi stimulus adaptasi metabolik, selama dilakukan dengan pengaturan intensitas dan pemulihan yang tepat.
Ramadan tidak melemahkan langkah; ia justru memurnikan arah—melatih pengendalian diri, disiplin, serta ketahanan mental.Kehadiran atletik jalanan juga berdampak pada meningkatnya popularitas cabang atletik nomor lari jarak pendek. Selama ini, event lari massal seperti 5K dan 10K lebih dominan dalam agenda olahraga daerah karena pertimbangan partisipasi dan sponsor.
Namun, tren sprint jalanan membuka ruang baru bahwa nomor jarak pendek memiliki daya tarik tersendiri. Antusiasme penonton, dukungan komunitas, hingga pengelolaan sederhana ala “tim dadakan” menunjukkan adanya potensi besar yang dapat ditata lebih profesional.
Dari sisi pembinaan olahraga, fenomena ini dapat dipandang sebagai bentuk pemassalan (mass participation) yang alami. Dalam teori pembinaan prestasi, pemassalan merupakan fondasi penting sebelum memasuki tahap pembibitan dan pembinaan intensif. Atlet-atlet potensial sering lahir dari ruang-ruang informal seperti ini—dari lintasan aspal yang sederhana menuju trek sintetis berstandar nasional. Tentu, proses tersebut membutuhkan sentuhan sistematis: perencanaan program, dukungan pelatih berkompeten, serta kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, komunitas olahraga, dan sektor swasta.
Lebih dari sekadar adu cepat, atletik jalanan menghadirkan nilai karakter. Setiap langkah adalah dialog antara raga dan jiwa. Saat napas tersengal, remaja belajar tentang daya juang. Saat kalah, mereka belajar tentang sportivitas. Saat menang, mereka belajar rendah hati. Dalam konteks pendidikan, olahraga bukan hanya aktivitas fisik, melainkan wahana pembentukan kepribadian yang tangguh dan berintegritas.
Filosofi lokal salumpat saindege—melangkah seirama untuk tujuan bersama—relevan dengan semangat ini. Jika dikelola dengan pendekatan ilmiah dan dukungan kebijakan yang terarah, atletik jalanan dapat menjadi pintu masuk lahirnya sprinter masa depan dari Tabagsel. Juara memang tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari proses panjang, dari komitmen, dari pembinaan yang konsisten, dan dari ruang-ruang sederhana tempat mimpi mulai berlari.
Di jalanan itu memang tak ada podium megah atau medali bergantung di dada. Namun di sanalah tekad ditempa. Ramadan menjadi saksi bahwa generasi muda kita memilih berlari mengejar prestasi, bukan melaju dalam risiko. Dari aspal sederhana, harapan itu kini berlari—menuju pentas juara.(PS/BERMAWI)
