POSKOTASUMATERA.COM–TAPSEL–Langkah mantap lima siswi SMAN 2 Plus Sipirok mengukir harapan baru bagi generasi muda di Tapanuli Selatan. Dengan wajah penuh semangat dan tekad yang kuat, mereka resmi dikukuhkan sebagai Duta Pelajar Anti Narkoba (DPAN) tingkat kabupaten/kota tahun 2026. Bagi sekolah dan masyarakat, pengukuhan ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol kebangkitan remaja Tapsel dalam melawan ancaman narkotika.
Kelima siswi tersebut adalah Amira Raudhatul Jannah Samosir (Duta Pelajar Anti Narkoba Kabupaten Tapanuli Selatan 2026), Laila Fitriani (Duta Pelajar Anti Narkoba Kabupaten Padang Lawas Utara 2026), serta Salsa Billah, Syakila Sharen, dan Tasiah Aulia Piliang yang juga dipercaya mewakili Tapanuli Selatan tahun 2026.
Mereka terpilih bukan hanya karena prestasi akademik, tetapi juga karena kepemimpinan, kemampuan komunikasi publik, serta pemahaman ilmiah tentang bahaya narkotika dan zat adiktif lainnya.
Secara ilmiah, penyalahgunaan narkoba pada usia remaja berdampak serius terhadap perkembangan otak yang masih berada pada fase pertumbuhan. Paparan zat adiktif dapat mengganggu fungsi kognitif, menurunkan konsentrasi belajar, memicu gangguan mental, hingga merusak masa depan produktivitas sosial.
Karena itu, pendekatan edukasi sebaya (peer education) yang diemban para duta pelajar dinilai efektif, sebab pesan pencegahan lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh rekan seusia.
Kepala SMAN 2 Plus Sipirok, Akhiruddin Harahap, S.Sos., M.Pd., menyampaikan rasa bangga atas capaian anak didiknya. Ia menegaskan bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal nilai di atas kertas, tetapi juga tentang karakter, integritas, dan keberanian mengambil peran sosial. “Kami ingin siswa menjadi pelopor perubahan, bukan sekadar penonton,” ujarnya penuh harap.
Program Duta Pelajar Anti Narkoba merupakan bagian dari gerakan promotif dan preventif yang sejalan dengan strategi nasional pemberantasan narkotika. Melalui seminar ilmiah, kampanye literasi, diskusi interaktif, hingga aksi sosial, para duta diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif akan pentingnya gaya hidup sehat.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan tantangan pergaulan bebas, suara mereka menjadi pengingat bahwa masa depan tidak boleh direnggut narkoba.
Secara sosiologis, keterlibatan pelajar dalam gerakan ini memperkuat modal sosial masyarakat. Remaja yang memiliki ketahanan diri dan pemahaman yang baik tentang risiko narkoba cenderung lebih mampu menolak tekanan lingkungan negatif. Dukungan sekolah, keluarga, dan pemerintah daerah menjadi fondasi penting agar gerakan ini tidak berhenti sebagai simbol, tetapi berkembang menjadi budaya.
Kini, lima siswi itu memikul amanah besar di pundaknya. Di balik selempang kehormatan yang mereka kenakan, tersimpan harapan ribuan pelajar di Tapanuli Selatan dan Padang Lawas Utara. Semoga langkah kecil mereka hari ini menjadi gelombang besar perubahan, menginspirasi generasi muda untuk berdiri tegak, berkata tidak pada narkoba, dan berani menjaga masa depan dengan penuh kesadaran dan cinta pada kehidupan.(PS/BERMAWI)1
