POSKOTASUMATRA.COM - SIGLI – Jelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Aceh tahun 2026, suhu politik internal partai berlambang mercy ini kian memanas. Sejumlah nama mulai mencuat ke permukaan, namun dukungan terhadap kader murni internal partai semakin menguat dan tak lagi disuarakan setengah-setengah.
Musda Demokrat Aceh 2026 dinilai bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan momentum krusial penentuan arah dan kekuatan Partai Demokrat Aceh menghadapi kontestasi politik mendatang. Siapa yang duduk di kursi Ketua DPD akan sangat menentukan soliditas mesin partai ke depan.
Sejumlah nama yang digadang-gadang maju sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Aceh periode 2026–2031 mulai ramai diperbincangkan. Dari internal partai, muncul nama Drh. Nurdiansyah Alasta, M.Kes (DNA) dan H.T. Ibrahim. Sementara dari luar struktur internal, nama Illiza Sa’aduddin Djamal ikut masuk dalam radar spekulasi politik.
Menanggapi dinamika tersebut, Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pidie, Teuku Syawal, angkat bicara tegas. Ia menilai Nurdiansyah Alasta sebagai figur paling siap dan paling pantas memimpin Demokrat Aceh.
Menurut Syawal, DNA bukan sosok dadakan. Rekam jejak politiknya dinilai jelas dan terukur.
“DNA dua periode duduk sebagai anggota DPR Aceh. Jaringannya kuat, komunikasinya jalan, baik dengan partai nasional, partai lokal, maupun Pemerintah Aceh. Ini modal besar memimpin Demokrat Aceh,” tegas Teuku Syawal kepada poskotasumatra.com, Senin (09/02/2026).
Tak hanya soal pengalaman, Syawal juga menyoroti peran strategis DNA yang saat ini menjabat Ketua Komisi IV DPRA sekaligus Bendahara DPD Partai Demokrat Aceh, posisi yang dinilainya dijalankan dengan baik dan penuh tanggung jawab.
DNA juga dikenal vokal menyuarakan persoalan-persoalan krusial Aceh. Salah satunya terkait dugaan aliran dana tambang ilegal yang dinilai merugikan daerah dan rakyat Aceh.
“Keberanian bersikap dan konsisten membela kepentingan daerah adalah ciri pemimpin yang dibutuhkan Demokrat Aceh hari ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Syawal menekankan pentingnya faktor regenerasi. Ia menyebut Demokrat Aceh harus dipimpin figur yang mampu menjangkau pemilih muda, seiring perubahan peta politik dan karakter pemilih.
“Pemilih muda akan jadi penentu pemilu ke depan. Demokrat Aceh perlu pemimpin yang intelek, energik, komunikatif, dan paham arah perubahan zaman,” katanya.
Meski dinamika politik internal terus menghangat, Syawal menegaskan seluruh proses Musda harus tetap berjalan sesuai mekanisme partai. Ia menyebut, keputusan akhir tetap berada di tangan DPP Partai Demokrat.
“Kita hormati mekanisme. Apapun keputusan Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Mas AHY, seluruh kader wajib tunduk dan patuh,” pungkasnya. (PS/AZHARI)
