Gaung “Iqra” dari Palestina di SMAN 2 Padangsidimpuan: Ketika Doa, Ilmu, dan Air Mata Bertemu dalam Safari Dakwah Internasional

/ Senin, 02 Maret 2026 / 10.30.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM – PADANGSIDIMPUAN –Suasana halaman SMAN 2 Padangsidimpuan pada Senin (2/3/2026) terasa berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk bersila dengan wajah penuh harap, menyambut kedatangan ulama asal Palestina, Sheikh Abdel Rahman Zakaria.


 Dalam balutan Safari Dakwah Internasional yang berkolaborasi dengan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) wilayah Padangsidimpuan/Tapanuli Selatan, kegiatan ini bukan sekadar tausiah, tetapi perjumpaan batin antara generasi muda Indonesia dan suara perjuangan dari tanah para nabi.


Dengan suara tenang namun penuh getaran emosi, Sheikh Abdel Rahman Zakaria membuka kajiannya dengan ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, Surah Al-Alaq ayat 1–5. Kata “Iqra” (bacalah) menggema di antara dinding sekolah, seakan menjadi panggilan langsung bagi para siswa untuk menjadikan ilmu sebagai jalan kemuliaan. Ia mengisahkan bagaimana di tengah keterbatasan dan konflik yang melanda Palestina, semangat membaca dan menghafal Al-Qur’an tetap tumbuh di hati anak-anak. “Ilmu adalah cahaya. Tidak ada yang bisa memadamkannya, bahkan oleh peperangan,” ujarnya, disambut hening yang sarat makna.


Beberapa siswa tampak menunduk, sebagian lainnya meneteskan air mata ketika sang ulama menceritakan kondisi pendidikan di Palestina. Di balik cerita tentang keterbatasan fasilitas, terselip pesan kuat tentang keteguhan iman dan kecintaan pada ilmu. Momen itu menjelma menjadi ruang refleksi: bahwa kesempatan belajar yang dimiliki hari ini adalah nikmat yang patut disyukuri dan diperjuangkan dengan kesungguhan.


Kepala sekolah, Juli Damayanti, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menilai, kehadiran ulama dari Palestina menghadirkan perspektif global tentang makna pendidikan berbasis nilai Qur’ani. “Anak-anak kami tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga belajar empati, solidaritas, dan makna perjuangan dari kisah nyata,” tuturnya dengan mata berbinar.


Suasana semakin hidup ketika Sheikh mengajak siswa mengikuti permainan sambung ayat Al-Qur’an. Tangan-tangan kecil terangkat cepat, suara lantang melanjutkan potongan ayat dengan penuh percaya diri. Tawa dan tepuk tangan mengiringi setiap jawaban yang benar. Dalam kesederhanaan metode itu, tersimpan pelajaran tentang keberanian, fokus, dan kecintaan terhadap kitab suci.


Sebagai bentuk apresiasi, siswa yang mampu menyambung ayat dengan tepat menerima hadiah berupa Dinar Yordania. Koin itu berkilau di tangan mereka—bukan sekadar benda bernilai tukar, melainkan simbol persaudaraan lintas bangsa dan jejak sejarah peradaban Islam. Banyak siswa mengaku akan menyimpannya sebagai pengingat bahwa ilmu dan solidaritas tak mengenal batas geografis.


Safari Dakwah Internasional ini akhirnya meninggalkan jejak yang lebih dalam dari sekadar dokumentasi kegiatan sekolah. Dari halaman SMAN 2 Padangsidimpuan, gaung “Iqra” menyatu dengan doa untuk Palestina dan tekad untuk menjadi generasi berilmu serta berakhlak. Di tengah dunia yang terus berubah, pesan itu terasa sederhana namun kuat: membaca, memahami, dan peduli—itulah jalan menuju peradaban yang bermartabat.(PS/BERMAWI)



Komentar Anda

Terkini: