BPBD Tapanuli Selatan Gelar Simulasi Gempa di Sekolah Rakyat Terintegrasi, Siswa Diajarkan Teknik Penyelamatan Diri

/ Rabu, 19 Agustus 2026 / 11.25.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM-TAPANULI SELATAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tapanuli Selatan menggelar simulasi bencana gempa bumi di lingkungan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Tapanuli Selatan, Rabu (19/8/2026). Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Pelajaran 2026/2027 tersebut menyasar peserta didik jenjang SD, SMP hingga SMA. Simulasi ini menjadi bagian penting dalam membangun budaya sadar bencana sejak usia sekolah.


Kepala BPBD Tapanuli Selatan Zulkarnaen Siregar, SP melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Handi Febrian Batubara, S.Kom bersama rombongan BPBD Tapanuli Selatan hadir memberikan edukasi sekaligus praktik penanganan kondisi darurat akibat gempa bumi. Materi tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi juga diperagakan agar para siswa memahami tindakan yang harus dilakukan ketika bencana benar-benar terjadi.


Dalam sosialisasinya, tim BPBD menekankan bahwa gempa bumi dapat terjadi secara tiba-tiba sehingga kesiapsiagaan menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko korban jiwa. Para siswa diperkenalkan pada prinsip dasar penyelamatan diri, seperti tetap tenang, melindungi kepala, menjauh dari benda yang berpotensi jatuh, serta mengikuti arahan petugas dan guru ketika proses evakuasi dilakukan.



Salah satu materi yang mendapat perhatian siswa adalah simulasi ketika sirene peringatan dibunyikan. Begitu mendengar bunyi sirene, siswa diarahkan untuk segera merespons secara teratur dengan melindungi kepala dan bergerak menuju lokasi aman sesuai jalur evakuasi. Pola tersebut dimaksudkan untuk membentuk respons otomatis yang tepat, sehingga kepanikan dapat diminimalkan saat menghadapi situasi bencana sebenarnya.


Selain teknik penyelamatan diri, BPBD Tapanuli Selatan juga memperkenalkan peralatan evakuasi berupa tandu. Para siswa diberikan pemahaman mengenai fungsi tandu serta cara dasar mengangkat dan memindahkan korban secara aman. Pengetahuan tersebut penting sebagai bagian dari edukasi pertolongan awal sebelum korban memperoleh penanganan lebih lanjut dari petugas yang berkompeten.


Kegiatan simulasi juga memiliki nilai edukatif dalam membangun kesiapsiagaan kolektif di lingkungan sekolah. Dalam perspektif mitigasi bencana, sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya proses pembelajaran akademik, tetapi juga ruang strategis untuk membentuk pengetahuan, keterampilan, dan karakter tangguh bencana. Siswa yang memiliki pemahaman kebencanaan diharapkan mampu melindungi dirinya sekaligus membantu mengingatkan orang di sekitarnya.


Pelaksanaan simulasi pada rangkaian MPLS SRT 1 Tapanuli Selatan juga menunjukkan bahwa pengenalan lingkungan sekolah dapat diintegrasikan dengan pendidikan keselamatan dan kebencanaan. Dengan metode praktik langsung, pesan mengenai mitigasi menjadi lebih mudah dipahami dan diingat oleh peserta didik dibandingkan hanya melalui penyampaian materi di ruang kelas.


Melalui kegiatan tersebut, BPBD Tapanuli Selatan berharap lahir generasi pelajar yang memiliki kesadaran dan kemampuan dasar menghadapi bencana. Edukasi sejak dini diharapkan mampu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih siap, responsif, dan aman ketika menghadapi ancaman gempa bumi. Simulasi ini sekaligus menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar pengetahuan, melainkan keterampilan yang harus dilatih secara berkala agar dapat diterapkan secara tepat pada saat keadaan darurat.

(PS/BERMAWI)



Komentar Anda

Terkini: