POSKOTASUMATERA.COM.KARO – Kondisi kesehatan Krismas br Sihite, siswi SMA Negeri 1 Berastagi yang menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), pada 13/ 09 yang lalu belum kunjung pulih. Bahkan, Krismas kini harus menjalani perawatan untuk kedua kalinya di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Haji Medan.
Pihak keluarga mengaku cemas dan trauma melihat kondisi Krismas yang kembali memburuk setelah sebelumnya dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang.
Hingga Minggu (13/09/2026), Krismas masih mengeluhkan sakit perut, pusing, serta kebas pada kedua kakinya.
Meski demikian, keluarga menyebut sudah ada sedikit perkembangan. Krismas yang sebelumnya kesulitan berbicara kini mulai mampu berkomunikasi, meski masih terbata-bata. "Saat diminta Gubernur Sumut dirujuk kembali ke RS Haji Medan, kondisi kesehatan Krismas memang sangat mengkhawatirkan. Berbicara saja dia tidak sanggup. Tapi saat ini korban sudah mau bicara meski terbata-bata,” ujar Apriati br Sihite, kakak kandung Krismas
Apriati mengatakan, Krismas merupakan salah satu korban dengan kondisi paling mengkhawatirkan pasca keracunan MBG di SMAN I Berastagi.
Krismas menjadi salah satu korban yang dirujuk ke RS Haji Medan. Setelah menjalani perawatan selama 10 hari, Krismas dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang pada 21 Agustus 2026. Namun, kondisi kesehatannya kembali memburuk saat berada di rumah.
Pada 10 September 2026, keluarga kembali membawa Krismas ke RS Efarina Berastagi. Saat itu, Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution datang menjenguk para korban, termasuk Krismas.nMelihat kondisi Krismas yang mengkhawatirkan, Gubernur Sumut meminta agar siswi tersebut kembali dirujuk ke RS Haji Medan.
Malam itu juga, Krismas dilarikan ke rumah sakit tersebut. “Ini kedua kalinya Krismas dirawat di PICU RS Haji Medan. Tapi kondisi kesehatannya tak kunjung membaik,” ujar Apriati. Menurut Apriati, pihak keluarga hingga kini belum memperoleh kepastian mengenai diagnosis terbaru penyakit yang dialami adiknya.
Ia mengatakan, pada perawatan sebelumnya, dokter sempat menyampaikan diagnosis infeksi saluran pencernaan pada usus. Namun, untuk perawatan kali ini, keluarga mengaku belum mendapat penjelasan lebih lanjut.
“Kami masih menunggu kepastian kondisi kesehatan adik kami,” katanya.
Selain itu, Apriati mengaku keluarga belum mendapat pendampingan dari pihak Badan Gizi Nasional (BGN) selama mendampingi Krismas menjalani perawatan di Medan. Bahkan, biaya hidup keluarga selama berada di rumah sakit disebut masih ditanggung sendiri.
“Kami sendirian menunggu kepastian kondisi kesehatan Krismas. Biaya hidup selama di rumah sakit juga kami tanggung sendiri,” ungkapnya. Karena itu, pihak keluarga berharap pemerintah lebih memperhatikan penanganan kesehatan Krismas, sebagaimana komitmen yang disampaikan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka saat berkunjung ke Tanah Karo.
Demi kesehatan dan kesembuhan sang adik, pihak keluarga berharap Krismas dapat dirujuk ke rumah sakit di Jakarta, seperti dua korban lainnya, Febiola br Bangun dan Agnesia Silitonga, yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta.
“Untuk kesembuhan adik kami, kami minta dirujuk ke rumah sakit di Jakarta,” pinta Apriati. Ia mengatakan, permintaan tersebut bukan tanpa alasan. Keluarga khawatir Krismas kembali dinyatakan sembuh, tetapi kemudian harus menjalani perawatan ulang. “Karena ini kedua kalinya adik kami dirujuk ke sini. Kami hanya ingin adik kami sembuh total dari penyakitnya dan tidak bolak-balik masuk rumah sakit,” lirihnya. (PS/BUDIMAN S)
