POSKOTASUMATERA.COM – GORONTALO – Semangat memperkuat iman, menimba ilmu, dan membangun kesadaran akan pentingnya perlindungan sosial berpadu dalam kegiatan Navigasi Iman yang digelar di Masjid Besar Baitur Ridha, Desa Luwoo, Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo, Jumat (18/9/2026). Kegiatan yang menghadirkan Habib Salim Aljufri sebagai penceramah ini mengangkat tema “Pentingnya Menuntut Ilmu dan Meraih Keberkahan dalam Kehidupan”.
Kegiatan keagamaan tersebut dihadiri Camat Telaga Jaya Ronal Mertiarto Abdini, S.Pd., M.M., bersama masyarakat dan jamaah setempat. Masjid Besar Baitur Ridha menjadi salah satu pusat aktivitas keagamaan masyarakat Telaga Jaya, sekaligus ruang silaturahmi untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, kepedulian sosial, dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan keagamaan tersebut dihadiri Camat Telaga Jaya Ronal Mertiarto Abdini, S.Pd., M.M., bersama masyarakat dan jamaah setempat. Masjid Besar Baitur Ridha menjadi salah satu pusat aktivitas keagamaan masyarakat Telaga Jaya, sekaligus ruang silaturahmi untuk memperkuat nilai-nilai spiritual, kepedulian sosial, dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam tausiahnya, Habib Salim Aljufri mengajak jamaah menjadikan ilmu sebagai landasan untuk memperkuat keimanan sekaligus memperbaiki kualitas kehidupan. Menurut pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, menuntut ilmu tidak cukup hanya dengan memperoleh pengetahuan, tetapi perlu disertai niat yang tulus, adab yang baik, serta pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ilmu diharapkan memberikan keberkahan bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Dalam tausiahnya, Habib Salim Aljufri mengajak jamaah menjadikan ilmu sebagai landasan untuk memperkuat keimanan sekaligus memperbaiki kualitas kehidupan. Menurut pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, menuntut ilmu tidak cukup hanya dengan memperoleh pengetahuan, tetapi perlu disertai niat yang tulus, adab yang baik, serta pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ilmu diharapkan memberikan keberkahan bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Suasana penuh makna tersebut semakin diperkaya dengan edukasi perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan yang disampaikan Kepala BPJS Ketenagakerjaan Gorontalo, Dr. Ir. Sanco Simanullang, ST., MT., IPM., ASEAN Eng. Ia mengajak masyarakat memahami pentingnya perlindungan bagi pekerja, baik di sektor formal maupun informal. Menurutnya, kesadaran terhadap risiko kecelakaan kerja, kematian, hingga kebutuhan finansial pada masa tua perlu dibangun sejak seseorang masih aktif dan produktif bekerja.
Sanco menjelaskan bahwa BPJS Ketenagakerjaan memiliki lima program utama, yakni Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Setiap program memiliki fungsi perlindungan yang berbeda, mulai dari penanganan risiko kecelakaan akibat kerja, tabungan hari tua, manfaat pensiun, santunan kematian, hingga dukungan bagi pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam pemaparannya, Sanco juga menerangkan bahwa pekerja Penerima Upah (PU), seperti karyawan perusahaan, memperoleh perlindungan melalui mekanisme kepesertaan yang melibatkan pemberi kerja dan pekerja sesuai ketentuan program. Sementara itu, pekerja Bukan Penerima Upah (BPU), seperti petani, nelayan, pedagang, sopir, pekerja mandiri, dan pelaku UMKM, dapat mendaftarkan diri secara mandiri. Untuk perlindungan JKK dan JKM, iuran BPU mulai Rp16.800 per bulan, sedangkan kepesertaan JHT dapat ditambahkan secara sukarela dengan iuran mulai Rp20.000 per bulan. Ia menegaskan bahwa persyaratan, besaran iuran, dan manfaat mengikuti ketentuan program yang berlaku.
“Pekerja formal maupun informal sama-sama memiliki hak mendapatkan perlindungan. Jangan menunggu risiko datang baru memikirkan perlindungan,” ujar Sanco, mengingatkan jamaah agar menjadikan jaminan sosial sebagai bagian dari perencanaan kehidupan dan kesejahteraan keluarga. Ia juga menjelaskan bahwa pendaftaran BPU memerlukan NIK atau KTP elektronik, data profil yang lengkap dan benar, serta status aktif bekerja. Pendaftaran dan pembayaran iuran pertama menjadi dasar dimulainya perlindungan sesuai ketentuan kepesertaan.
“Pekerja formal maupun informal sama-sama memiliki hak mendapatkan perlindungan. Jangan menunggu risiko datang baru memikirkan perlindungan,” ujar Sanco, mengingatkan jamaah agar menjadikan jaminan sosial sebagai bagian dari perencanaan kehidupan dan kesejahteraan keluarga. Ia juga menjelaskan bahwa pendaftaran BPU memerlukan NIK atau KTP elektronik, data profil yang lengkap dan benar, serta status aktif bekerja. Pendaftaran dan pembayaran iuran pertama menjadi dasar dimulainya perlindungan sesuai ketentuan kepesertaan.
Menariknya, Sanco menghubungkan edukasi jaminan sosial tersebut dengan pesan hikmah yang populer dikenal sebagai “lima perkara sebelum lima perkara”, yakni masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati. Pesan tersebut mengajak masyarakat memanfaatkan kesempatan yang dimiliki untuk mempersiapkan masa depan. “Selagi sehat kita persiapkan perlindungan. Selagi masih mampu bekerja kita siapkan masa depan. Jangan menunggu musibah baru kemudian mencari perlindungan,” tuturnya. Kegiatan Navigasi Iman kemudian ditutup dengan doa dan silaturahmi bersama jamaah. Perpaduan tausiah keagamaan dan edukasi jaminan sosial ini diharapkan memperkuat kesadaran masyarakat Telaga Jaya bahwa keberkahan hidup tidak hanya tercermin dari kekuatan iman dan keluasan ilmu, tetapi juga dari kepedulian terhadap keselamatan, kesejahteraan, serta masa depan keluarga. (PS/BERMAWI)


