Piasan Pase 2026, Semarak Harlah 800 Tahun Aceh Utara: Merawat Sejarah, Menghidupkan Tradisi

/ Sabtu, 05 September 2026 / 17.44.00 WIB
Ismail A Jalil  | Bupati Aceh Utara 

POSKOTASUMATERA.COM | ACEH UTARA — Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyiapkan rangkaian Piasan Pase 2026 sebagai bagian dari peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-800 Kabupaten Aceh Utara. Mengusung semangat mengenang perjalanan panjang kawasan Pase, kegiatan tersebut akan berlangsung selama tujuh hari, 7 hingga 13 September 2026, dengan memadukan sejarah, seni budaya, kuliner tradisional, kegiatan keagamaan, aksi sosial, hingga promosi berbagai potensi daerah.

Pusat kegiatan dipusatkan di Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Utara, Landing, Kecamatan Lhoksukon.

Namun, rangkaian peringatan delapan abad tersebut diawali sehari sebelumnya, yakni Minggu, 6 September 2026, melalui kegiatan ziarah ke kompleks makam Sultan Malik Al-Shaleh dan Ratu Nahrasiyah di Kecamatan Samudera.

Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., yang akrab disapa Ayah Wa, mengatakan usia 800 tahun bukan sekadar angka. Momentum tersebut menjadi refleksi atas perjalanan panjang sebuah peradaban yang memiliki jejak penting dalam sejarah Aceh, Nusantara, bahkan dunia.

“Delapan ratus tahun bukan sekadar angka. Akan tetapi, perjalanan panjang sebuah peradaban yang meninggalkan jejak penting dalam sejarah Aceh, Nusantara, bahkan dunia,” kata Ayah Wa, Jumat (4/9/2026).

Ziarah tersebut akan diisi dengan pembacaan Al-Qur’an, Samadiyah dan tahlil. Pada hari yang sama juga dijadwalkan Rapat Paripurna Istimewa DPRK Aceh Utara.

Rangkaian pembuka itu menjadi penanda bahwa Harlah ke-800 Aceh Utara tidak sekadar diarahkan sebagai seremoni perayaan, tetapi juga momentum untuk mengenang, merawat dan memperkenalkan kembali jejak sejarah yang berkaitan erat dengan kawasan Samudera Pasai.

Upacara Puncak dan Pertunjukan 800 Rapa’i Pase

Memasuki 7 September 2026, Piasan Pase memasuki agenda utama Harlah ke-800 Aceh Utara.

Sejumlah kegiatan penting dijadwalkan berlangsung pada hari tersebut, mulai dari upacara puncak Harlah, pembukaan expo, hingga pertunjukan kolosal yang melibatkan 800 penampil Rapa’i Pase.

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara juga menyiapkan penyambutan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia bersama rombongan dari Jakarta.

Pertunjukan Rapa’i Pase menjadi salah satu agenda yang mendapat perhatian karena menghadirkan seni tradisional daerah dalam skala besar. Melalui penampilan ratusan pemain tersebut, Piasan Pase diharapkan mampu memperlihatkan kekayaan seni dan tradisi yang tumbuh serta berkembang di kawasan Pase.

Tidak hanya menjadi tontonan, pertunjukan tersebut juga diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya daerah.

27 Kecamatan Hadirkan Kuliner Tradisional

Semarak Piasan Pase juga akan diwarnai dengan Festival dan Lomba Kuliner Kenduri Kuah Kari Pase.

Sebanyak 27 kecamatan di Aceh Utara dijadwalkan ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Masing-masing akan memiliki kesempatan menampilkan kekayaan kuliner tradisional yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Aceh Utara.

Agenda kuliner tersebut tidak hanya diposisikan sebagai hiburan. Lebih jauh, festival diharapkan menjadi media untuk memperkenalkan kembali makanan tradisional sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi kenduri dan kekayaan kuliner masyarakat Aceh Utara.

Pada hari yang sama, juga dijadwalkan seminar dan lomba peradilan adat, serta berbagai kegiatan yang berkaitan dengan Museum Pase.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa Piasan Pase dirancang dengan pendekatan yang menggabungkan budaya, sejarah, pendidikan masyarakat dan promosi potensi daerah.

Pertanian, Mitigasi Bencana hingga Drama Sejarah

Memasuki 9 September 2026, rangkaian kegiatan berlanjut dengan agenda yang menggabungkan sektor pertanian, mitigasi bencana, olahraga tradisional dan sejarah.

Di antaranya Expo Inovasi Pertanian dan Mitigasi Bencana, lomba olahraga tradisional, serta pementasan drama sejarah Sultan Malik Al-Shaleh.

Pementasan drama sejarah menjadi salah satu upaya menghadirkan sejarah ke ruang pertunjukan sehingga lebih mudah dipahami dan dinikmati masyarakat, khususnya generasi muda.

Kisah Sultan Malik Al-Shaleh yang menjadi bagian penting dari sejarah Samudera Pasai diharapkan dapat menjadi sarana edukasi sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya menjaga warisan sejarah daerah.

Delapan Abad Menjadi Momentum Membangun Masa Depan

Piasan Pase 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu. Delapan abad perjalanan Aceh Utara menjadi momentum untuk melihat kembali kekuatan sejarah dan budaya sebagai modal membangun masa depan.

Melalui perpaduan kegiatan sejarah, seni, agama, kuliner, pertanian, olahraga tradisional, aksi sosial, expo dan promosi potensi daerah, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara ingin menjadikan Harlah ke-800 sebagai ruang kebersamaan seluruh masyarakat.

Semangat tersebut sekaligus menegaskan bahwa sejarah Samudera Pasai bukan hanya milik masa lalu. Warisan tersebut merupakan identitas yang perlu dirawat, dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan Piasan Pase 2026, delapan abad perjalanan Aceh Utara diharapkan tidak berhenti pada sebuah peringatan, tetapi menjadi energi baru untuk merawat tradisi Pase, memperkuat identitas daerah dan membangun Aceh Utara yang semakin maju dan bermartabat. (PS | DAMRY)

Komentar Anda

Terkini: