Kapus Muara Satu : Zat Besi Berperan Penting Cegah Stunting

/ Senin, 29 April 2024 / 18.38.00 WIB
Kepala Pukesmas Muara Satu Afrizal Dj memperoleh piagam penghargaan opini pelayanan publik bidang kesehatan 

POSKOTASUMATERA.COM | MUARA SATU – Masalah stunting merupakan salah satu isu penting dalam dunia kesehatan anak-anak yang masih menjadi perhatian besar, khususnya anak-anak di negara terbelakang dan negara berkembang. Stunting sendiri mengalami perubahan, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.

Stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang / tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi dikarenakan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang / kronis yang terjadi dalam 1000 HPK.

Terkait dengan pencegahan stunting ini, salah satunya dengan protein hewani yang kaya dengan zat besi, karena zat besi penting untuk menunjang tumbuh kembang anak yang optimal.

Hal tersebut disampaikan, Kepala Puskesmas Kecamatan Muara Satu Afrizal Dj SKM kepada media Poskota belum lama ini di diruang kerjanya. Menurutnya, Zat besi menjadi salah satu elemen kunci dalam optimalisasi masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), termasuk untuk pencegahan stunting. Ini tidak dapat dilepaskan dari perannya yang begitu krusial dalam tubuh.

Afrizal menyebutkan, zat besi adalah komponen penting dari hemoglobin (bagian dari sel darah merah yang membawa oksigen dari paru-paru ke tubuh). Mineral ini memberi hemoglobin kekuatan untuk menyalurkan oksigen dalam darah, sehingga oksigen dapat dibawa ke seluruh bagian tubuh yang membutuhkan.

“Tanpa zat besi yang cukup, tubuh tidak dapat membuat hemoglobin dan sel darah merah sehingga jaringan dan organ-organ di tubuh tidak akan mendapatkan cukup oksigen. Ini yang membuat kekurangan zat besi sangat berbahaya, salah satunya karena bisa menurunkan sistem kekebalan tubuh dan membuat anak jadi sering sakit-sakitan. Anak yang sering sakit, tumbuh kembangnya tidak akan optimal sehingga ia berisiko mengalami gagal tumbuh, seperti stunting,” ujarnya.

Zat besi merupakan salah satu mineral yang berperan penting dalam pembentukan hemoglobin. Hemoglobin merupakan protein yang bertugas sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.

Selain itu juga kata Afrizal, zat besi berfungsi untuk membantu menjalankan berbagai fungsi tubuh, seperti metabolisme energi, sistem kekebalan tubuh, proses pencernaan, kinerja otak, dan mengatur suhu tubuh. Jadi, apabila kekurangan zat besi atau Anemia Defisiensi Besi (ADB) yang merupakan penyebab anemia (kekurangan sel darah merah) terbanyak pada anak-anak,

“Hal ini tentu bisa menghambat tumbuh kembangnya. Apabila anemia terjadi pada anak di bawah usia dua tahun, dapat berakibat fatal terhadap perkembangan keterampilan motorik dan sensoriknya. Alhasil, anak menjadi lebih lambat dalam merespons, gampang rewel, dan sulit mengendalikan diri,”  kata Afrizal Dj.

Kemudian salah satu penyebab terjadinya stunting adalah defisiensi asupan zat besi. Zat besi salah satu kunci penting dalam optimalisasi masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), termasuk untuk pencegahan stunting, salah satunya didapatkan dari konsumsi protein hewani.

“Penting untuk diketahui bahwa kebutuhan zat besi pada anak per hari. Tujuannya agar orang tua bisa memberikan makanan ataupun suplemen zat besi sesuai dengan kebutuhan anak, tidak kekurangan dan juga kelebihan,” ucapnya.

Sementara untuk kebutuhan zat besi pada anak akan berbeda-beda setiap usianya. Jika dilihat dalam tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan, kebutuhan zat besi bayi sesuai usia yakni: 0-5 bulan adalah sebesar 0,3 mg per hari, 6-11 bulan sebesar 11 mg per hari, dan 1-3 tahun sebesar 7 mg per hari.

“Ibu dapat memenuhi kebutuhan zat besi bayi dengan memberikan ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI (MPASI) bergizi yang kaya zat besi,” ucap Kapus Muara Satu ini.

Ada dua jenis zat besi yang bisa diberikan kepada si kecil, yakni zat besi heme (hewani) dan non-heme (sayuran atau nabati). Untuk anak yang masih dalam masa pertumbuhan, zat besi heme lebih disarankan.

Secara biologis, zat besi dari pangan hewani lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan zat besi dari pangan nabati. Beberapa contoh sumber zat besi dari pangan hewani antara lain: hati ayam, hati sapi, daging merah, ikan, udang segar, dan telur.

“Namun bukan berarti anak tidak boleh mendapatkan zat besi dari pangan nabati. Intinya harus seimbang. Beberapa makanan yang mengandung zat besi non-heme contohnya tempe, tahu, sayuran hijau, dan kacang-kacangan,” jelas Afrizal Dj.

Lebih lanjut, kata Afrizal Dj, anemia pada ibu hamil dan remaja putri juga menyebabkan anak nantinya lahir dengan risiko stunting. Untuk itu, Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Provinsi melakukan intervensi spesifik dengan memberikan Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri dan ibu hamil. “Remaja putri yang menderita anemia ketika menjadi ibu hamil berisiko melahirkan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan stunting,” kata Afrizal. (ADV)



Komentar Anda

Terkini: