POSKOTASUMATERA.COM– TAPSEL – Senyum sederhana dari anak-anak di ruang kelas berdinding papan menjadi hadiah terindah bagi Annisa Hasanah Situmorang, S.Pd. Guru P3K sekaligus wali kelas dua di SDN 101228 Pargarutan, Kecamatan Sipirok, ini telah memilih jalan penuh pengabdian: setia mengajar di pelosok dengan segala keterbatasan.
Hal.ini disampaikan Annisa Hasanah Situmorang kepada awak media online di Sekolah Rabu Pagi (3/9-2025).
Disampaikannya Setiap pagi, Annisa harus menempuh perjalanan melewati jalan tanah sejauh 32 kilometer dari pusat Kecamatan Sipirok. Rute ini bukan jalur mudah—ketika hujan, tanah berubah menjadi lumpur licin, dan saat kemarau, debu tebal menyelimuti perjalanan. Angkutan umum pun hampir tak ada, hanya sebuah truk colt diesel yang lewat seminggu sekali. Namun, semua rintangan itu tak pernah menjadi alasan baginya untuk absen hadir di sekolah.
Bagi Annisa, profesi guru bukan sekadar mencari nafkah, melainkan sebuah panggilan hati. Ia tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga merapikan pakaian siswa, menyemir sepatu mereka, bahkan menyiapkan mereka agar percaya diri saat belajar. “Anak-anak di sini bukan hanya murid, mereka sudah seperti anak saya sendiri,” ujarnya dengan mata berbinar.
Di tengah keterbatasan, Annisa hadir sebagai sosok pengganti orang tua di sekolah. Ia memahami betul bahwa perhatian kecil, seperti memotivasi anak yang malas belajar atau memeluk murid yang menangis, bisa membuat perbedaan besar dalam hidup mereka. Kehadirannya telah menumbuhkan semangat baru—membuat anak-anak tetap berani bermimpi meski jauh dari hiruk-pikuk kota.
Meski fasilitas minim, Annisa tetap sabar dan tulus mengajar. Baginya, pendidikan adalah hak semua anak tanpa terkecuali, termasuk mereka yang tinggal di pelosok. “Saya hanya ingin mereka bisa punya masa depan yang lebih baik,” katanya lirih. Tekanan psikologis, jauhnya akses, hingga minimnya sarana, tak pernah memudarkan tekadnya.
Kisah Annisa adalah potret nyata perjuangan seorang guru di pedalaman Indonesia. Di balik keterbatasan, ia tetap menyalakan lilin kecil harapan agar generasi muda di Sipirok tidak tertinggal dari anak-anak lain di perkotaan. Dari kelas sederhana itulah, masa depan bangsa sedang ditempa dengan penuh cinta dan pengorbanan.
Dedikasi Annisa Hasanah Situmorang bukan hanya inspirasi bagi sesama guru, tetapi juga pengingat bagi kita semua bahwa pendidikan sejatinya adalah jembatan menuju harapan. Dari pelosok Sipirok, ia telah menunjukkan arti sesungguhnya dari kata mengabdi.(PS/BERMAWI)

