Kepedulian Pendidikan Pascabencana: Kacabdisdik XI Pulihkan Semangat Siswa Smansa Batangangkola

/ Selasa, 09 Desember 2025 / 18.06.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Di tengah bekas lumpur yang masih menempel di halaman sekolah dan cerita getir para pelajar yang kehilangan perlengkapan belajar, sebuah langkah kemanusiaan datang membawa harapan baru. Senin (9/12-2025), Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdisdik) Wilayah XI Provinsi Sumatera Utara hadir di SMAN 1 Batangangkola, memberikan bantuan bagi para siswa yang terdampak banjir. Kunjungan itu dipimpin langsung oleh Dr. Tetti Mahrani Pulungan, S.Pd., M.Pd., didampingi Kasi SMA M. Ahyar ME Nasution, M.Pd.

Dalam suasana yang hangat namun penuh haru, para siswa menyambut kedatangan rombongan. Bagi sebagian pelajar, banjir telah merenggut buku, seragam, hingga perlengkapan belajar yang selama ini mereka rawat dengan susah payah. Kehadiran Kacabdisdik seolah memberi pesan: mereka tidak sendiri dalam menghadapi bencana ini.

Di balik aksi pemberian bantuan, terdapat dimensi kemanusiaan yang lebih mendalam. Secara psikologis, bencana sering meninggalkan jejak emosional yang membuat remaja kehilangan fokus dan semangat belajar. Karena itu, pemberian perlengkapan sekolah, kebutuhan dasar, hingga sentuhan moral menjadi intervensi penting yang membantu memulihkan mental dan motivasi mereka. Inilah bentuk nyata konsep education in emergencies, sebuah pendekatan pendidikan berbasis empati yang kini banyak dianjurkan di dunia internasional.

Kepala SMAN 1 Batangangkola, Drs. Khairunnas, tampak berkaca-kaca saat menyampaikan terima kasih. Ia menegaskan bahwa bantuan ini bukan sekadar barang, tetapi suntikan harapan bagi anak-anak didiknya. “Semoga bermanfaat bagi ananda kami dan menjadi amal jariyah bagi Ibu Kacabdis dan rombongan,” tuturnya lirih, disambut anggukan penuh empati dari para pendidik yang hadir.

Tak hanya menyerahkan bantuan, rombongan Kacabdisdik juga berdialog langsung dengan para siswa dan guru untuk menggali kebutuhan lanjutan. Pendekatan partisipatif ini penting agar pemulihan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan berlanjut pada pemetaan kebutuhan nyata seperti perbaikan ruang kelas, pengadaan sarana belajar, hingga dukungan psikososial bagi siswa yang paling terdampak.

Dialog tersebut membuka banyak cerita: dari siswa yang tetap berangkat sekolah meski rumahnya masih dijemur matahari, hingga guru yang berkeliling memastikan murid-muridnya tetap hadir meski dalam kondisi sulit. Momen-momen itu menggambarkan bahwa pendidikan bukan hanya soal pelajaran di kelas, tetapi juga keteguhan dan solidaritas manusia.

Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam, baik bagi siswa maupun jajaran Kacabdisdik. Di tengah keterbatasan, mereka belajar bahwa kekuatan pendidikan muncul bukan hanya dari buku dan gedung sekolah, tetapi dari kepedulian antar manusia. Melalui kolaborasi pemerintah, sekolah, dan masyarakat, ketahanan pendidikan di daerah rawan bencana dapat terus dibangun. Dengan dukungan ini, siswa SMAN 1 Batangangkola kini melangkah kembali menuju masa depan dengan hati yang lebih kuat dan semangat yang kembali menyala.(PS/BERMAWI)



Komentar Anda

Terkini: