Mengusulkan Agar Dijadikan Menjadi Bencana Nasional: Karisos Limbong Anggota DPRD Tapsel Fraksi PDI Perjuangan Suarakan Jeritan Korban Bencana Sumatera ke Presiden Prabowo

/ Selasa, 09 Desember 2025 / 21.36.00 WIB

Anggota  DPRD Tapsel Fraksi PDI Perjuangan Karisos Limbong M.Pd

POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Di balik tumpukan material longsor, rumah-rumah yang hanyut, serta wajah-wajah letih di tenda darurat, tersimpan kisah-kisah getir yang belum sepenuhnya terdengar dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh. Ratusan keluarga masih mencari kerabat mereka yang hilang, sementara anak-anak tidur berdesakan di lantai terpal dengan pakaian yang tak pernah diganti sejak banjir bandang melumat desa mereka. Dalam situasi penuh luka inilah, Anggota DPRD Tapanuli Selatan (Tapsel), Fraksi PDI Perjuangan Karisos Limbong, M.Pd,  memilih bersuara lantang mewakili jeritan warga yang berharap kehadiran negara.


Karisos mengaku setiap hari menerima laporan dari berbagai titik terdampak, termasuk Desa Garoga Kecamatan Batangtoru dan Desa Tandihat Kecamatan Angkola Selatan,yang tanahnya retak dan membuat satu desa terpaksa mengungsi. Banjir bandang di berbagai Desa di Kecamatan Sayurmaginggi, Longsor di Kecamatan Tano Tombangan Angkola dan 13 Kecamatan di Tapsel banjir dan longsor. Ia menyaksikan sendiri luka-luka batin masyarakat: orang tua yang kehilangan anak, petani yang kehilangan lahan mata pencaharian, hingga lansia yang tiba di posko hanya dengan pakaian di tubuh.

“Ketika saya menatap mata mereka, saya melihat ketakutan sekaligus harapan. Mereka menunggu negara hadir lebih kuat,” ujarnya dengan suara berat. Ia pun meminta Presiden Prabowo Subianto untuk menetapkan bencana ini sebagai Bencana Nasional agar bantuan dan penanganan bisa dipercepat.


Di banyak lokasi, warga masih mengingat momen banjir datang sebagai “detik-detik maut”. Sungai yang biasanya jinak seketika berubah menjadi gelombang lumpur yang menerjang rumah dan jembatan. Di perbukitan, longsor jatuh tanpa suara peringatan, menimbun rumah-rumah yang berdiri selama puluhan tahun. “Kami hanya sempat lari menyelamatkan diri. Barang-barang, rumah… semua hilang,” ungkap Sumarni, seorang ibu yang kini bermalam di posko pengungsian Batangtoru sambil memeluk anak bungsunya.


Bencana ini bukan hanya menghancurkan bangunan, tetapi merampas rasa aman masyarakat. Banyak anak yang terbangun setiap malam karena mimpi buruk, sedangkan orang dewasa sulit tidur ketika mendengar suara hujan. Karisos menyebut kondisi ini berbahaya jika dibiarkan.

“Mereka bukan sekadar korban bencana. Mereka manusia yang sedang menata hidup dari awal. Bantuan psikososial sama pentingnya dengan sembako,” tegasnya.


Sebagai wakil rakyat dari Dapil Tapsel III—meliputi Batang Angkola, Angkola Muaratais, Sayur Matinggi, hingga Tantom Angkola—Karisos juga menerima keluhan warga yang terisolasi karena jalan putus dan jembatan rusak. Akses logistik tersendat, pekerja harian kehilangan pendapatan, dan sekolah-sekolah terpaksa ditutup. Ia menegaskan bahwa suara rakyat ini tidak boleh berhenti di level daerah. “Ini harus sampai ke pemerintah pusat. Ini bukan bencana kecil,” katanya.


Ia menilai penetapan Bencana Nasional tidak hanya soal status administratif, tetapi bentuk nyata hadirnya negara dalam situasi rakyat paling lemah. Dengan status tersebut, alat berat bisa dikerahkan lebih cepat, logistik nasional bisa masuk tanpa hambatan, tenaga medis tambahan dapat dikirim, dan operasi penyelamatan dapat dilakukan lebih luas.

“Ketika negara turun sepenuhnya, masyarakat merasa tidak sendirian. Dan itu hal terpenting bagi mereka saat ini,” ujar Karisos.


Di akhir penyampaiannya, Karisos mengingat sebuah pesan yang disampaikan seorang pengungsi lansia di Kecamatan Sayurmatinggi. Dengan suara bergetar, orang tua itu berkata, “Nak, bilang pada pemerintah… kami tidak minta banyak. Kami hanya ingin hidup kembali.”

Bagi Karisos, kalimat sederhana itu adalah pengingat bahwa bencana bukan hanya soal data korban dan angka kerusakan—tetapi tentang upaya ribuan keluarga untuk bangkit dari puing-puing kehidupan mereka.(PS/BERMAWI)


Komentar Anda

Terkini: