POSKOTASUMATERA.COM-TAPANULI SELATAN — Di bawah langit Dusun Taman Sari, Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batangtoru, harapan itu perlahan tumbuh. Minggu (21/12/2025), tangis kehilangan yang selama berbulan-bulan membekas di wajah warga terdampak bencana, mulai berganti dengan senyum penuh harap saat batu pertama pembangunan 227 unit rumah hunian tetap diletakkan.
Bagi para korban banjir bandang dan longsor, momen ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi penanda bahwa mereka tidak sendiri. Negara hadir, menggenggam tangan warga yang sempat terpuruk, dan mengajak mereka bangkit menata masa depan dengan rasa aman.
Pembangunan hunian tetap ini dirancang bukan hanya untuk berteduh, tetapi untuk melindungi kehidupan. Rumah-rumah tersebut akan berdiri di zona hijau yang dinyatakan aman dari risiko bencana, sebagai bentuk pembelajaran dari luka masa lalu agar tak terulang di kemudian hari.
Di antara kerumunan, tampak warga penerima manfaat berdiri dengan mata berkaca-kaca. Ada yang kehilangan rumah, ladang, bahkan anggota keluarga. Kini, mereka menyaksikan awal dari lembaran baru—tempat tinggal yang lebih layak, aman, dan bermartabat.
Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Padaribu, SE, AK, MM, CA, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemerintah daerah masih berada dalam suasana duka. Namun, ia menegaskan bahwa duka tidak boleh mematikan harapan. Pembangunan hunian tetap ini dilakukan secara paralel di berbagai titik relokasi aman, sebagai wujud komitmen jangka panjang pemulihan kehidupan warga.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan ini lahir dari semangat solidaritas kemanusiaan. Tidak bersumber dari APBN, hunian tetap ini terwujud berkat dukungan yayasan kemanusiaan serta kontribusi berbagai pihak. Salah satunya PTPN IV yang dengan sukarela menyediakan lahan setengah hektare—sebuah bentuk kepedulian nyata dunia usaha terhadap sesama.
Menteri Perumahan Rakyat yang tidak dapat hadir langsung, menyampaikan empati dan penguatan melalui sambungan virtual. Pesan yang disampaikan menegaskan bahwa pemerintah pusat tidak hanya membangun rumah, tetapi juga berupaya memulihkan rasa aman dan kepercayaan diri masyarakat terdampak.
Direktur Jenderal Tata Kelola dan Pengendalian Risiko Kementerian Perumahan menambahkan, pembangunan hunian tetap ini merupakan hasil kolaborasi multipihak—pemerintah pusat, daerah, BUMN, sektor swasta, dan masyarakat. Warga tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga subjek utama dalam proses pemulihan.
Kegiatan ditutup dengan dialog hangat bersama warga. Harapan, kekhawatiran, dan doa mengalir dalam suasana penuh keakraban. Dari Dusun Taman Sari, sebuah pesan kuat menggema: dari reruntuhan bencana, kehidupan bisa tumbuh kembali—lebih kuat, lebih aman, dan lebih bermakna.
(PS/BERMAWI)

