POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL – Siang itu, senyum mulai kembali terlihat di wajah para penyintas bencana di Sumatera Utara. Setelah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian, kabar peresmian 402 unit hunian sementara (huntara) oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjadi titik terang yang mereka nantikan. Program ini menjadi simbol bahwa pemulihan bukan sekadar janji, tetapi proses nyata yang kini mulai dirasakan masyarakat.
Sebanyak 402 huntara yang tersebar di Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Tengah resmi digunakan sebagai tempat tinggal sementara bagi warga terdampak. Di Kabupaten Tapanuli Selatan, sebanyak 250 unit huntara berdiri, disusul 40 unit di Tapanuli Utara, dan 112 unit di Tapanuli Tengah. Di balik angka-angka itu, tersimpan kisah keluarga yang akhirnya bisa kembali tidur dengan rasa aman setelah sekian lama hidup di pengungsian.
Penentuan lokasi huntara dilakukan melalui kajian teknis kebencanaan yang matang. Pemerintah memastikan hunian dibangun di area yang aman secara geologi, mudah dijangkau layanan kesehatan dan pendidikan, serta dekat dengan sumber mata pencaharian warga. Langkah ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak lagi sekadar bersifat darurat, tetapi mulai mengarah pada pembangunan yang berkelanjutan dan berperspektif masa depan.
Selain hunian sementara, pemerintah juga menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH) kepada keluarga terdampak. Bantuan ini menjadi penopang kebutuhan sehari-hari selama masa transisi sebelum hunian tetap dibangun. Bagi banyak keluarga, DTH bukan hanya bantuan finansial, melainkan bentuk kepedulian negara yang memberi ruang bagi mereka untuk bangkit kembali secara perlahan.
Dalam perspektif kebencanaan modern, fase rehabilitasi merupakan tahap penting untuk memulihkan kehidupan sosial, ekonomi, dan psikologis masyarakat. Kehadiran huntara menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk kembali belajar, bagi lansia untuk beristirahat dengan layak, serta bagi para orang tua untuk menata ulang harapan dan rencana masa depan.
Target pemerintah mencapai “zero pengungsi” sebelum Ramadan menjadi simbol komitmen kuat untuk mengembalikan martabat warga terdampak. Memiliki tempat tinggal, meski sementara, memberi rasa tenang yang sangat dibutuhkan keluarga korban bencana. Stabilitas ini diyakini akan mempercepat pemulihan mental sekaligus membuka jalan bagi aktivitas ekonomi kembali bergerak.
Pembangunan huntara juga membawa dampak positif bagi ekonomi lokal. Proyek ini melibatkan tenaga kerja setempat dan memanfaatkan material dari daerah sekitar.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi bukti bahwa penanganan bencana hanya bisa berhasil melalui gotong royong lintas sektor.
Kini, berdirinya ratusan huntara di Sumatera Utara bukan sekadar pembangunan fisik. Ia adalah simbol harapan baru—bahwa dari puing bencana, kehidupan perlahan bangkit kembali. Pemerintah berharap langkah ini menjadi fondasi kuat menuju rekonstruksi permanen yang lebih tangguh, sehingga masyarakat dapat kembali menjalani hidup dengan aman, sehat, dan penuh optimisme.(PS/BERMAWI)
.jpg)