Ketika Atlet Berjuang Sendiri: Investigasi Retaknya Sistem Olahraga Humbahas, Krisis Di KONI, Dan Lemahnya Kinerja Disparpora

/ Kamis, 19 Maret 2026 / 13.44.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM-HUMBAHAS,- Di permukaan, pelepasan atlet karate berlangsung penuh semangat. Barisan atlet muda berdiri tegap, membawa harapan besar untuk bertanding di ajang tingkat provinsi hingga nasional. Namun di balik seremoni tersebut, tersimpan persoalan serius yang kini mulai terkuak ke publik. Kamis, (19/3/2026) 

Hasil penelusuran media menemukan adanya retaknya sistem pembinaan olahraga di Kabupaten Humbang Hasundutan. Kondisi ini dipicu oleh lemahnya kinerja , krisis kepemimpinan di , Disarpora dan KONI , serta tidak sinkronnya garis kerja dengan Pemerintah daerah .

Akibatnya, pembinaan atlet berjalan tanpa arah yang jelas, sementara beban justru ditanggung oleh atlet dan pelatih."Para atlet di bawah naungan tetap menunjukkan dedikasi tinggi. Namun realita di lapangan jauh dari ideal.

Pelatih TC ASKI, (Sabuk Hitam DAN II), mengungkapkan kondisi yang selama ini dialami para atlet: bahwa untuk mengikuti kejuaraan, banyak atlet kami berangkat dengan dana pribadi. Kami tetap berangkat karena ini soal pembinaan dan masa depan mereka, tapi tentu ini sangat berat jika terus dibiarkan.”

Ia menegaskan bahwa semangat atlet tidak pernah padam, namun tanpa dukungan sistem yang jelas, perjuangan tersebut menjadi timpang.Anak-anak ini berlatih keras, bahkan ada yang harus menahan cedera. Tapi saat bertanding, mereka masih harus memikirkan biaya. Ini yang seharusnya menjadi perhatian serius.”

Hal senada disampaikan oleh Team Manager ASKI, Ia menilai persoalan ini bukan sekadar teknis, melainkan kegagalan sistem. Kita melihat ada ketidaksinkronan antara Disparpora dan KONI. Seharusnya ini satu garis, tapi yang terjadi justru berjalan sendiri-sendiri.”

Menurutnya, kondisi ini tidak boleh dianggap biasa.Kalau dibiarkan, ini akan berdampak jangka panjang. Atlet bisa kehilangan motivasi, pembinaan terhenti, dan daerah kehilangan potensi prestasi.

Ia juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan dukungan atlet.Kami hanya ingin kejelasan. Kalau memang ada program atau bantuan, sampaikan dengan terbuka. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan di lapangan.”

Ketua ASKI binaan juga menyampaikan keprihatinannya.Kami melihat langsung bagaimana anak-anak ini berjuang. Mereka tidak pernah mengeluh, tapi bukan berarti mereka tidak butuh perhatian.”

Ia menegaskan bahwa olahraga, khususnya karate, membutuhkan komitmen serius dari semua pihak.Ini olahraga keras. Mereka bertaruh fisik dan mental di atas matras. Jangan sampai di luar matras mereka juga harus berjuang sendirian karena sistem yang tidak berjalan.”

Brigpol Boy.E.Sinambela   juga berharap ada langkah konkret dari pemerintah daerah.Kami berharap ke depan ada perhatian yang lebih serius, mulai dari pembinaan hingga dukungan anggaran. , karena atlet ini aset daerah.

Informasi yang dihimpun juga  menyebutkan bahwa ketua lama tengah menjalani proses hukum, namun hingga kini belum ada kejelasan mengenai: Penunjukan Plt, Serah terima jabatan, Maupun kepengurusan baru yang sah.

Situasi ini menciptakan kekosongan kendali yang berdampak langsung pada pembinaan olahraga."Tim official meminta kepada Pemkab Humbahas untuk lebih selektif dalam menempatkan pemangku kepentingan di bidang olahraga.

Mereka menekankan bahwa: Jabatan harus diisi oleh orang yang kompeten, Memiliki pemahaman olahraga, Dan benar-benar peduli terhadap atlet.

Dengan berbagai fakta dan kesaksian yang terungkap, satu hal menjadi jelas. Masalah utama bukan pada atlet, melainkan pada sistem yang belum berjalan sebagaimana mestinya. Kini publik menunggu, apakah para pemangku kebijakan siap memperbaiki sistem atau justru membiarkan kondisi ini terus berulang. (PS/B.Nababan) 



Komentar Anda

Terkini: