GMNI Padangsidimpuan Desak Wali Kota Tuntaskan Krisis Irigasi dan Relokasi TPA Batunadua

/ Senin, 08 Juni 2026 / 23.13.00 WIB


POSKOTASUMATERA.COM-PADANGSIDIMPUAN-Persoalan kerusakan saluran irigasi dan pencemaran lingkungan di Kecamatan Batunadua kembali menjadi sorotan publik. Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Padangsidimpuan, Adi Mulia, mendesak Pemerintah Kota Padangsidimpuan untuk segera mengambil langkah konkret dalam menyelesaikan dua persoalan strategis yang dinilai telah berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya petani dan warga yang bermukim di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Batunadua.


Menurut Adi Mulia, kerusakan saluran irigasi yang telah berlangsung hampir tiga tahun menyebabkan terganggunya sistem pengairan lahan pertanian masyarakat. Dalam perspektif pembangunan daerah, keberadaan irigasi merupakan infrastruktur vital yang berfungsi menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan. Ketika akses air terganggu, maka dampaknya tidak hanya dirasakan pada penurunan hasil panen, tetapi juga berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga petani.


Ia menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun para petani di Batunadua harus menghadapi keterbatasan pasokan air untuk mengairi sawah mereka. Kondisi tersebut menyebabkan produktivitas pertanian menurun, biaya produksi meningkat, dan pendapatan masyarakat semakin tergerus. Situasi ini, menurutnya, menjadi indikator bahwa persoalan infrastruktur dasar masih menjadi tantangan serius yang harus segera direspons pemerintah daerah.


Selain krisis irigasi, GMNI juga menyoroti belum terealisasinya relokasi TPA Batunadua yang sebelumnya pernah menjadi bagian dari komitmen pemerintah. Keberadaan TPA di lokasi saat ini dinilai terus memunculkan persoalan lingkungan, mulai dari potensi pencemaran air dan tanah hingga gangguan kesehatan masyarakat akibat limbah dan bau yang ditimbulkan. Dalam kajian lingkungan hidup, pengelolaan sampah yang tidak optimal dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas ekosistem dan kesehatan warga sekitar.


Adi menilai lambannya penyelesaian kedua persoalan tersebut menunjukkan belum optimalnya koordinasi dan komunikasi antara Pemerintah Kota Padangsidimpuan dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Padahal, menurutnya, penyelesaian masalah irigasi dan lingkungan membutuhkan sinergi lintas sektor agar kebijakan yang diambil dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak.


Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa seorang kepala daerah harus memiliki sensitivitas sosial dalam memahami kebutuhan masyarakat. Pertanian, kata Adi, merupakan salah satu sumber penghidupan utama warga Batunadua yang harus mendapatkan perlindungan melalui kebijakan pembangunan yang berpihak kepada rakyat. Di sisi lain, persoalan lingkungan akibat keberadaan TPA juga memerlukan perhatian serius agar kualitas hidup masyarakat tetap terjaga.


Atas dasar itu, GMNI Kota Padangsidimpuan mendesak Wali Kota untuk segera menuntaskan perbaikan saluran irigasi, merealisasikan relokasi TPA Batunadua, serta menghadirkan solusi komprehensif bagi masyarakat yang terdampak. GMNI menegaskan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga hak-hak masyarakat terpenuhi. Menurut mereka, keberhasilan kepemimpinan tidak hanya diukur dari janji politik yang disampaikan, tetapi dari kemampuan menghadirkan kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan dan persoalan nyata yang dihadapi rakyat.(PS/BERMAWI)

Komentar Anda

Terkini: