POSKOTASUMATRA.COM|ACEH UTARA—Menuju predikat Madrasah Adiwiyata bukan sekadar tentang memenangkan penghargaan, melainkan tentang membangun budaya dan karakter peduli lingkungan sejak dini. Demikian di ungkapkan Ibu Safrida Arianda dari BLHK Aceh dalam acara sosialisasi di Kantor Kemenag Aceh Utara , kamis tanggal 11 Juni 2026, kemarin.
Komitmen inilah yang sedang digaungkan oleh salah satu madrasah dalam rapat koordinasi bersama komite dan warga lingkungan Madrasah.
Dalam pertemuan tersebut, Safrida menegaskan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari konsistensi melakukan hal-hal kecil di lingkungan Madrasah.
Sinergi dengan semua kepala Madrasah Melalui menggunakan Aplikasi SiDia
Salah satu poin penting yang diangkat adalah keterlibatan aktif para kepala MAN dan MTSN.
Lebih lanjut, Safrida menegaskan bahwa sosialisasi kebijakan lingkungan kepada para kepala Madrasah bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari Aksi Nyata.
"Sosialisasi para kepala Madrasah hari ini sebagai bagian mengingatkan madrasah agar mereka mengikuti aksi Adiwiyata, " ujar nya.
Dalam sosialisasi tersebut di imbau agar kepala madrasah bisa memasukkan dokumentasi kegiatan ini ke dalam aplikasi SiDia (Sistem Informasi Adiwiyata) sebagai bukti komitmen bersama. Katanya.
Sementara itu, H, Zahiri, perwakilan madrasah dalam pertanyaan nya mengatakan, Kantin Bebas Plastik dan Kreativitas Siswa,Gerakan revolusioner juga diterapkan di area kantin.
Madrasah kini memberlakukan aturan ketat: tidak boleh menggunakan plastik sekali pakai. Sebagai solusinya, anak-anak ditantang untuk membuat tempat atau wadah makan dan minum mereka sendiri, atau membawa tumblr dan lunch box dari rumah.
Meskipun tantangan seperti pengurangan air minum kemasan plastik masih dihadapi, madrasah optimis bahwa dengan edukasi yang persuasif, kebiasaan ini akan terkikis secara perlahan.
Prinsip Reuse dan Efisiensi Energi
Selain masalah plastik, madrasah juga menerapkan prinsip hidup hemat dan memperpanjang umur barang (prolonging lifespan). Beberapa aksi nyata yang sudah berjalan antara lain:
Penghematan Kertas: Memanfaatkan kertas surat-menyurat yang baru terpakai satu sisi untuk keperluan internal. "Satu sisi jangan dibuang, kita gunakan kembali," tegasnya.
Namun H. Zahiri berharap harus ada komitmen dari BLHK dan Kanwil Kemenag Aceh untuk melahirkan regulasi bahwa penanggung jawab program Adiwiyata di madrasah agar di bebaskan jam mengajar sedikit 6 jam. Khusus bagi guru yang mengawasi program Adiwiyata.
Seperti hal kata H Zahiri Untuk mengejar nilai maksimal (5 poin) dalam instrumen Adiwiyata aspek keanekaragaman hayati, saat ini madrasah juga sedang gencar melakukan penataan dan sensus tanaman.
Seluruh warga sekolah dilibatkan untuk menghitung jumlah pohon dan tanaman yang ada di lingkungan termasuk UKS dan MBG madrasah guna memastikan sampah berjalan teratur dan penghijauan berjalan optimal.
Edukasi Melalui Himbauan ini sudah lama diterapkan di MAN 1 Aceh Utara
Guna memastikan semua program ini berjalan konsisten, madrasah akan memperbanyak media himbauan di sudut-sudut strategis sekolah.
Himbauan ini diharapkan menjadi pengingat harian bagi siswa, guru, maupun tamu yang datang.
"Hal-hal itu terlihat kecil, tapi jika dilakukan bersama-sama, dampaknya sangat besar bagi bumi kita," tutupnya H. Zahiri dengan penuh optimisme. (PS|IMAM)
