Puluhan Tahun Bertahan Belajar Dalam Kegelapan..! , Ferry Matondang : " Masihkah Mereka Berharap Kepada Bupati Asahan...? "

/ Jumat, 12 Juni 2026 / 18.01.00 WIB


POSKOTASUMATERA. CON - ASAHAN – Di saat sebagian besar anak Indonesia belajar dengan penerangan listrik dan akses teknologi, kondisi berbeda masih dialami anak-anak di Dusun VIII, Desa Perhutaan, Kecamatan Sei Kepayang, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.

Setiap malam, Asyifa bersama adik-adiknya harus belajar menggunakan lampu teplok dan cahaya lilin karena kampung mereka hingga kini belum teraliri listrik.

Di ruang tengah rumah sederhana mereka, anak-anak itu duduk melingkar mengelilingi nyala lilin kecil yang menjadi satu-satunya sumber penerangan. 

Dengan jarak pandang yang sangat terbatas, mereka membuka buku pelajaran dan menulis catatan sambil berusaha menangkap setiap huruf yang tampak samar di tengah kegelapan.

Meski hidup dalam keterbatasan, semangat belajar mereka tidak pernah padam. Senyum dan keceriaan tetap terpancar dari wajah mereka, walau harus berjuang menimba ilmu dalam kondisi yang jauh dari layak.

Bagi anak-anak di Dusun VIII Desa Pertahanan, malam bukan alasan untuk berhenti belajar. 

Di bawah cahaya seadanya, mereka terus mengejar cita-cita, meski kampung mereka masih tertinggal dari sentuhan pembangunan.

"Puluhan Tahun Menunggu Terang"

Kondisi memprihatinkan tersebut mendapat sorotan sekaligus kecaman tajam dari jurnalis senior di Kabupaten Asahan, Ferry Matondang, Jumat (12/6/2026) di Kisaran. 

Menurutnya, hingga kini masih ada warga yang hidup tanpa listrik dan harus bertahan dalam berbagai keterbatasan. Rumah-rumah sederhana berdinding kayu, berlantaikan tanah, serta penggunaan kayu bakar untuk kebutuhan memasak masih menjadi pemandangan sehari-hari di kawasan tersebut.

"Wahai para pemangku kebijakan di Asahan, lihatlah warga yang hingga hari ini belum merasakan kemajuan pembangunan. Mereka belum menikmati listrik dan hidup jauh dari kata sejahtera," ujar Ferry.

Ia juga menyoroti buruknya akses jalan menuju permukiman warga. Jalan yang rusak parah membuat mobilitas masyarakat sangat terganggu.

"Bahkan saat ada warga meninggal dunia, jenazah harus ditandu menuju jalan utama karena kendaraan roda empat tidak bisa masuk," ungkapnya.

Ferry mempertanyakan mengapa wilayah yang hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat Kecamatan Sei Kepayang masih terkesan terisolasi dan belum tersentuh pembangunan secara maksimal.

"Jaraknya dekat dari pusat kecamatan, tetapi hingga hari ini masih hidup dalam keterisolasian. Salahnya di mana?" katanya.

"Harapan Sederhana Warga Sebelum Menutup Usia"

Menurut Ferry, sebagian besar warga lanjut usia di Dusun VIII Desa Pertahanan hanya memiliki satu harapan sederhana sebelum menutup usia, yakni merasakan listrik masuk ke kampung mereka.

"Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin menikmati listrik seperti warga lainnya sebelum ajal menjemput," ujarnya.

Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Asahan dan seluruh pemangku kepentingan agar segera memberikan perhatian serius terhadap kebutuhan dasar masyarakat, terutama penyediaan listrik dan perbaikan infrastruktur jalan.

Pembangunan harus dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Asahan tanpa terkecuali. 

"Jangan biarkan masih ada anak-anak yang harus belajar dalam gelap dan warga yang hidup tanpa akses layanan dasar di tengah kemajuan zaman," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dusun VIII Desa Pertahanan, Nazar Mulyono mengungkapkan bahwa sebelumnya terdapat sekitar 65 kepala keluarga yang menetap di wilayah tersebut. 

Namun seiring berjalan waktu, sebahagian warga memilih pindah karena tidak tahan hidup tanpa listrik dan minimnya infrastruktur pendukung. 

" Anak Anak Mereka Ingin Belajar "

Bagaimana bisa belajar dengan baik kalau tanpa ada listrik?. Ditambah lagi akses jalan masuk sepanjang sekitar tiga kilometer saat ini kondisinya rusak parah dan tidak dapat dilalui kenderaan roda empat, " ketus Nazar. 

Kisah Asyifa dan anak-anak Dusun VIII Desa Pertahanan menjadi potret nyata ketimpangan pembangunan yang masih terjadi. Di tengah gemerlap kemajuan daerah, mereka tetap bertahan menyalakan harapan dari seberkas cahaya lilin. (PS/Joko)

Komentar Anda

Terkini: