POSKOTASUMATERA.COM – Di antara deretan wajah bahagia para wisudawan dan orang tua yang memenuhi Aula Majelis Taklim Al Romly, Desa Bandar Hapinis, Kecamatan Muara Batangtoru, Kamis (4/6/2026), tampak sepasang orang tua yang tak mampu menyembunyikan rasa haru. Rohim Siregar bersama sang istri hadir mendampingi putra mereka, Baginda Zulhaini Siregar, yang berhasil meraih Juara IV pada Wisuda Akbar II Santri dan Santriah Tahun 2026 Pesantren Tahfiz Al Romly.
Momen ketika Baginda menerima penghargaan berupa voucher pendidikan senilai Rp1.500.000 menjadi puncak kebanggaan bagi keluarga. Senyum yang terpancar dari wajah sang anak seakan menjadi jawaban atas perjalanan panjang yang telah dilalui, mulai dari menghafal ayat demi ayat Al-Qur’an hingga menjalani disiplin kehidupan pesantren yang penuh tantangan.
Di balik prestasi tersebut, tersimpan kisah tentang pentingnya dukungan keluarga dalam proses pendidikan anak. Berbagai penelitian pendidikan menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan akademik dan pembentukan karakter. Kehadiran Rohim Siregar dan istrinya di hari wisuda menjadi gambaran nyata bahwa keberhasilan seorang anak sering kali lahir dari doa, perhatian, dan pendampingan yang konsisten dari keluarga.
Rohim Siregar yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Muara Hutaraja mengaku bersyukur atas pencapaian putranya. Ia menilai pendidikan tahfiz bukan hanya tentang menghafal Al-Qur’an, tetapi juga membangun akhlak, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang akan menjadi bekal penting bagi generasi muda di masa depan.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan dalam menghadapi perubahan sosial dan perkembangan zaman yang semakin kompleks. Dengan mata berbinar, Rohim menyampaikan apresiasi kepada para ustaz dan ustazah Pesantren Tahfiz Al Romly yang telah membimbing para santri dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Ia meyakini bahwa keberhasilan anak-anak di pesantren tidak terlepas dari dedikasi para pendidik yang setiap hari menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan para santri.
Suasana haru semakin terasa ketika para wisudawan berkumpul bersama keluarga untuk mengabadikan momen bersejarah tersebut. Bagi Rohim dan keluarganya, penghargaan yang diterima Baginda bukan sekadar simbol prestasi, melainkan buah dari perjuangan, pengorbanan, dan kerja keras yang dijalani selama menempuh pendidikan di pesantren.
Wisuda Akbar II Pesantren Tahfiz Al Romly pada akhirnya tidak hanya menjadi seremoni kelulusan, tetapi juga menghadirkan kisah-kisah inspiratif tentang cinta orang tua, semangat belajar anak, dan dedikasi para guru. Kisah Rohim Siregar dan putranya menjadi bukti bahwa ketika keluarga dan lembaga pendidikan berjalan beriringan, lahirlah generasi Qurani yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga siap menjadi teladan bagi masyarakat di masa mendatang.(
PS/BERMAWI)


