POSKOTASUMATRA.COM | ACEH TENGGARA – Warga Desa Ketambe, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, melakukan aksi pemblokadean jalan pada Sabtu (06/6/2026) sebagai bentuk protes terhadap belum adanya kejelasan bantuan bagi korban banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada Desember 2025 lalu.
Aksi yang dilakukan masyarakat itu bertujuan mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara agar segera merealisasikan janji pemberian dana hunian sementara (Huntara) dan hunian tetap (Huntap) kepada warga yang kehilangan rumah akibat bencana banjir.
Masyarakat mengaku kecewa karena hingga lebih dari enam bulan pascabencana, bantuan yang dijanjikan belum juga menunjukkan kepastian. Banyak korban banjir yang masih bertahan dalam kondisi serba terbatas sambil menunggu realisasi bantuan dari pemerintah.
Salah seorang korban banjir, Pasarudin, mengaku rumah miliknya hanyut diterjang arus banjir pada Desember tahun lalu. Hingga saat ini dirinya bersama keluarga masih menunggu kepastian bantuan yang pernah dijanjikan pemerintah.
Menurut Pasarudin, pascabanjir pemerintah sempat meminta warga korban bencana untuk mencari rumah kontrakan atau tempat tinggal sementara. Saat itu, pemerintah menjanjikan biaya sewa rumah akan diganti melalui bantuan sebesar Rp1,8 juta.
"Kami bingung harus bagaimana lagi. Waktu itu pemerintah menyampaikan agar kami mencari rumah sewa terlebih dahulu dan biaya sewanya nanti akan diganti sebesar Rp1,8 juta. Karena itu kami berusaha mencari tempat tinggal untuk keluarga. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan terkait dana tersebut," ungkap Pasarudin.
Ia mengatakan masyarakat saat ini tidak hanya membutuhkan kepastian mengenai dana hunian sementara, tetapi juga kejelasan terkait pembangunan hunian tetap yang hingga kini belum menunjukkan perkembangan yang jelas.
"Rumah saya habis hanyut dibawa arus banjir tahun lalu. Sampai hari ini kami masih menunggu kejelasan dari pemerintah terkait dana hunian sementara maupun hunian tetap. Kami tidak meminta yang berlebihan, kami hanya meminta janji yang pernah disampaikan kepada masyarakat segera direalisasikan," katanya.
Pasarudin menegaskan bahwa aksi pemblokadean jalan dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi agar pemerintah mendengar keluhan para korban banjir yang selama ini hidup dalam ketidakpastian.
Sementara itu, Kepala Desa Ketambe, Lahat, turut menyuarakan kekecewaan masyarakatnya terhadap lambannya realisasi bantuan. Menurutnya, selama berbulan-bulan warga terus mempertanyakan perkembangan bantuan kepada dirinya selaku kepala desa.
"Tolonglah kami ini Pak Bupati, perhatikan masyarakat Ketambe. Setiap hari masyarakat saya mempertanyakan kepada saya selaku kepala desa terkait dana hunian sementara dan hunian tetap. Sementara kami sendiri belum mendapatkan kejelasan yang pasti. Jadi kemana lagi kami harus meminta perhatian dan pertolongan jika sampai saat ini belum ada kepastian untuk warga korban banjir," ujar Lahat.
Lahat berharap pemerintah daerah segera turun tangan memberikan solusi nyata kepada masyarakat yang terdampak banjir. Menurutnya, warga hanya menginginkan kepastian atas janji yang pernah disampaikan kepada para korban bencana.
Menanggapi tuntutan masyarakat tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tenggara, Asbi, mengatakan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait penyaluran bantuan hunian sementara bagi korban banjir Ketambe.
"Kami sudah berkoordinasi dengan pihak BNPB terkait bantuan untuk korban banjir Ketambe. Insya Allah dalam waktu dekat dana hunian sementara akan segera direalisasikan kepada masyarakat yang terdampak banjir," ujar Asbi kepada Poskotasumatra.com, Sabtu (06/06/2026).
Asbi menjelaskan proses penyaluran bantuan memerlukan tahapan administrasi dan verifikasi data penerima sehingga membutuhkan waktu sebelum dapat direalisasikan. Terkait bantuan hunian tetap, pihaknya masih menunggu perkembangan dan koordinasi lebih lanjut dengan instansi terkait. Masyarakat berharap janji tersebut segera terealisasi agar para korban banjir dapat kembali menjalani kehidupan yang lebih layak setelah berbulan-bulan menunggu kepastian. (PS/ASP)

