Tim TCWC STPK Matauli Edukasi Warga Hutanabolon tentang Bahaya Mikroplastik dan Solusi Air Bersih

/ Sabtu, 20 Juni 2026 / 23.08.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM-TAPTENG-Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan (STPK) Matauli melalui Tim TCWC bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STPK Matauli melaksanakan kegiatan sosialisasi pengembangan filter mikroplastik berbasis limbah cangkang mollusca laut kepada masyarakat Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kamis (18/6).

Kegiatan yang berlangsung di salah satu rumah warga tersebut dihadiri oleh Lurah Hutanabolon, perangkat kelurahan, tokoh masyarakat, warga setempat, mahasiswa anggota Tim TCWC dan BEM STPK Matauli, serta dosen pembimbing Tim TCWC, Fiki Harjuni, S.Pi., M.Si.

Sosialisasi ini merupakan bagian dari upaya edukasi dan pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi tantangan kualitas air pascabanjir yang berpotensi menurunkan mutu sumber air yang digunakan masyarakat sehari-hari. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada inovasi filter mikroplastik berbasis limbah cangkang mollusca laut sebagai teknologi tepat guna yang sederhana, ramah lingkungan, dan mudah diterapkan pada skala rumah tangga.

Ketua Tim TCWC, Marta Lauwo, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya mikroplastik yang semakin menjadi perhatian global karena dapat mencemari sumber air dan berpotensi mengganggu kesehatan manusia maupun lingkungan.

"Melalui kegiatan sosialisasi ini, kami ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bahaya mikroplastik yang dapat mencemari sumber air serta memperkenalkan inovasi filter berbasis limbah cangkang mollusca laut sebagai solusi sederhana yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah tangga. Kami berharap inovasi ini dapat membantu masyarakat memperoleh akses air yang lebih bersih sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan lingkungan berbasis potensi lokal," ujar Marta.

Ia menambahkan bahwa pemanfaatan limbah cangkang mollusca laut tidak hanya berpotensi meningkatkan kualitas air, tetapi juga menjadi salah satu upaya mengurangi limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya di wilayah pesisir.

Dalam kegiatan tersebut, Tim TCWC yang beranggotakan Mhd. Arif Maulana, Salwa Nabila, dan Annisa Aula Putri turut memaparkan hasil pengembangan filter serta memberikan demonstrasi penggunaan alat kepada masyarakat. Peserta mendapatkan edukasi mengenai cara pemasangan, perawatan, dan penggantian media filtrasi secara berkala agar filter dapat berfungsi secara optimal dalam jangka panjang.

Selain sesi pemaparan materi, kegiatan juga diisi dengan diskusi interaktif yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan berbagai permasalahan terkait kualitas air yang mereka hadapi pascabanjir. Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan dan diskusi mengenai penerapan teknologi filtrasi yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.

Dosen Pembimbing Tim TCWC STPK Matauli, Fiki Harjuni, S.Pi., M.Si menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk implementasi tridarma perguruan tinggi yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

"Permasalahan kualitas air pascabanjir memerlukan perhatian bersama. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya melakukan penelitian dan inovasi, tetapi juga mentransformasikan hasilnya kepada masyarakat dalam bentuk teknologi tepat guna yang mudah diterapkan. Kami berharap inovasi filter mikroplastik berbasis limbah cangkang mollusca laut ini dapat menjadi alternatif solusi yang bermanfaat serta mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan," ungkap Fiki. 

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang dapat menjawab kebutuhan nyata masyarakat, khususnya dalam bidang kesehatan lingkungan dan pengelolaan sumber daya pesisir.

Pemilihan Kelurahan Hutanabolon sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada kondisi wilayah yang terdampak banjir sehingga berpotensi mengalami penurunan kualitas sumber air masyarakat, terutama air sumur bor yang masih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, edukasi mengenai kualitas air dan teknologi filtrasi menjadi langkah penting dalam mendukung kesehatan masyarakat pascabencana.

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Program KPP Mining in Action 2 Tahun 2026 yang mendukung berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat, pengembangan inovasi teknologi tepat guna, serta pelestarian lingkungan. Program tersebut menjadi wujud kolaborasi antara dunia pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan dalam menghadirkan solusi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah kelurahan, dan masyarakat, inovasi filter mikroplastik berbasis limbah cangkang mollusca laut diharapkan dapat menjadi solusi alternatif dalam meningkatkan kualitas air rumah tangga sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDGs 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDGs 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDGs 14 (Ekosistem Lautan), jelas Marta dan tim. 

Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, STPK Matauli melalui Tim TCWC berharap program ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi contoh pemanfaatan sumber daya lokal untuk menjawab tantangan lingkungan dan kesehatan secara berkelanjutan, tutup mereka. (PS/SAHAT)

Komentar Anda

Terkini: