Antrean Ratusan Kendaraan Mengular di Dua SPBU Padangsidimpuan, Warga Bertahan Meski Pasokan BBM Belum Masuk Sejak Pagi

/ Jumat, 28 November 2025 / 15.32.00 WIB

POSKOTASUMATERA.COM — PADANGSIDIMPUAN — Ratusan kendaraan tampak memenuhi halaman dan bahu jalan di SPBU 14.227.316 Padangmatinggi serta SPBU 14.227.313 Sadabuan pada Kamis sore (27/11/2025). Sejak pagi, pasokan BBM tak kunjung datang akibat terganggunya jalur distribusi karena longsor dan banjir di wilayah Tapsel, Tapteng, dan Sibolga. Situasi itu membuat para pengendara memilih bertahan dan mengantre meski tak ada kepastian waktu kedatangan truk tangki.


Suasana di kedua SPBU itu terasa penuh kecemasan. Deru mesin yang terus menyala, klakson sesekali terdengar, sementara sebagian pengendara duduk di atas jok motor sambil sesekali menengok ke arah pintu masuk SPBU. Bagi mereka, menunggu adalah pilihan paling aman agar tidak kehabisan BBM di tengah perjalanan. “Sudah habis bensin kami, makanya nunggu. Kalau mogok di jalan lebih repot,” ujar Rizal, seorang pengendara ojek harian.


Kondisi ini menunjukkan bagaimana gangguan distribusi energi sekecil apa pun dapat memberikan dampak besar kepada masyarakat. Ketika pasokan BBM terlambat beberapa jam saja, mobilitas warga langsung terhenti. Apalagi, sebagian besar aktivitas ekonomi di Padangsidimpuan masih sangat bergantung pada kendaraan berbahan bakar fosil, tanpa banyak pilihan transportasi alternatif.


Beberapa pengendara terlihat membawa bekal minuman dan makanan ringan, seolah mengantisipasi antrean yang bisa berlangsung berjam-jam. Seorang ibu rumah tangga yang menunggu di dalam mobilnya mengaku harus mengantar anaknya berobat sore ini. “Mau tak mau harus nunggu. Kalau tidak dapat bensin, kami tak bisa ke mana-mana,” katanya dengan nada cemas.


Sementara itu, petugas SPBU Padangmatinggi menjelaskan bahwa mereka juga tidak bisa memastikan kapan distribusi normal kembali. “Kendala di perjalanan, jalannya banyak yang terputus karena longsor. Kita hanya menunggu kabar dari terminal BBM,” ujar salah seorang petugas. Ketidakpastian inilah yang membuat suasana antrean semakin tegang, karena sebagian pengendara adalah sopir angkutan, pedagang, hingga pekerja harian yang bergantung penuh pada kendaraan untuk mencari nafkah.


Dari sisi ekonomi, antrean panjang ini sebenarnya adalah gambaran awal dari potensi kerugian produktivitas masyarakat. Banyak pekerjaan tertunda, pengiriman barang melambat, dan beberapa sopir angkutan terpaksa menurunkan penumpang lebih awal karena takut kehabisan BBM sebelum tiba di SPBU.


Meski begitu, di tengah panjangnya antrean, terlihat pula solidaritas kecil antara warga. Ada yang membantu mendorong motor yang mulai kehabisan bensin, ada yang saling berbagi air minum, bahkan beberapa pedagang kecil memanfaatkan momen ini untuk berjualan makanan kepada pengendara yang menunggu.


Hingga berita ini diterbitkan, antrean masih mengular panjang di kedua SPBU. Para pengendara tetap berharap truk tangki segera tiba agar aktivitas masyarakat kembali normal. Situasi sore itu memperlihatkan satu hal penting: betapa vitalnya peran energi dalam kehidupan sehari-hari, dan betapa masyarakat kecil menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya ketika pasokan terganggu.

(PS/BERMAWI)




Komentar Anda

Terkini: