Belajar Mengawal Demokrasi dari Rumah: Kisah 120 Peserta Tiga Kabupaten Pendidikan Pengawas Partisipatif Dalam Daring Tahun 2025

/ Sabtu, 29 November 2025 / 08.41.00 WIB



POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Di balik layar Zoom yang sederhana pada Senin, 25 November 2025, tersimpan semangat besar dari 120 peserta yang mengikuti Pendidikan Pengawas Partisipatif 2025. Mereka datang dari tiga kabupaten—Asahan, Tapanuli Selatan, dan Pakpak Bharat—dengan satu tujuan yang sama: menjadi bagian dari penjaga keadilan demokrasi.


Meski dilaksanakan secara daring, suasana pelatihan terasa hidup. Dari ruang tamu, warung kecil, hingga kantor desa, para peserta menyimak dengan serius, ada yang mencatat dengan teliti, ada pula yang sesekali bertanya karena rasa ingin tahu yang tinggi. Bagi banyak dari mereka, kesempatan ini bukan sekadar pelatihan, melainkan ruang untuk menyuarakan kepedulian terhadap pemilu yang jujur dan bersih.


Pembukaan kegiatan oleh Ketua Bawaslu Sumut, M. Aswin Diapari Lubis, SH, menjadi momen yang menginspirasi. Ia menegaskan bahwa pengawasan pemilu bukan hanya tugas lembaga, tetapi juga keberanian setiap warga untuk peduli. “Demokrasi tidak akan kuat tanpa mata masyarakat yang ikut mengawasinya,” ucapnya, yang membuat banyak peserta mengangguk setuju.


Para narasumber seperti Vernando M. Aruan, ST, Taufik Hidayat, ST, MM, dan Dr. Bahkrul Khair Amal,M.Si dari UNIMED, hadir bukan sekadar memberi teori. Mereka membagikan pengalaman lapangan—tentang tantangan, tentang harapan, dan tentang pentingnya suara warga biasa yang mau terlibat. Materi tentang teknis pencegahan pelanggaran dan sengketa proses,teknis penguatan jaringan dan pemberdayaan komunitas dan teknis pengembangan gerakan pengawas partisipatif hingga bagaimana membaca potensi pelanggaran pemilu, disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti.



Di sesi diskusi, kisah-kisah kecil bermunculan. Ada peserta yang bercerita pernah melihat dugaan pelanggaran namun bingung harus melapor kemana. Ada juga peserta muda yang ingin membawa pengetahuan ini ke komunitasnya. Dari cerita-cerita inilah terlihat satu hal penting: bahwa pelatihan ini menjangkau hati masyarakat yang ingin Pemilu berjalan lebih adil.


Momen yang paling diharapkan dari kegiatan diskusi P2P tahun 2025 bagi peserta dalam grup belajar mampu  menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) dengan Tema 'Berfungsi dan Bergerak Menuju Pemilu 2029 yang bermartabat". Para peserta tidak sekadar menggugurkan tugas, tetapi benar-benar menuliskan apa yang ingin mereka lakukan setelah mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran pengawasan partisipatif mulai dari pembelajaran mandiri oleh peserta melalui audio visual hingga diskusi pendalaman dan penajaman terkait materi pelatihan usai—dari membentuk kelompok kecil pengawas desa, membuat forum diskusi pemilu, hingga mengedukasi pemilih pemula di sekolah-sekolah.


Pada akhirnya, pelatihan ini bukan hanya tentang regulasi dan prosedur. Ia tentang manusia—tentang warga yang ingin diperhitungkan, tentang masyarakat yang ingin memastikan suara mereka tidak hilang, dan tentang tekad untuk menjaga demokrasi dari hal-hal kecil di sekitar mereka.


Pendidikan Pengawas Partisipatif 2025 menjadi bukti bahwa kejujuran pemilu tidak hanya lahir dari aturan, tetapi juga dari hati banyak orang yang memilih peduli. Dan dari ruang-ruang kecil itulah, harapan besar bagi pemilu 2025 yang bersih mulai tumbuh.(PS/BERMAWI)




Komentar Anda

Terkini: