POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Baru sebulan rampung dibangun, kondisi bangunan Perpustakaan SD Negeri 101416 Lumban Jabi-Jabi, Kecamatan Tano Tombangan Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan, mulai memunculkan tanda-tanda kerusakan. Dari pantauan di lokasi, tampak cat dinding luar gedung sudah mengelupas di beberapa bagian, menimbulkan pertanyaan mengenai mutu dan ketahanan material yang digunakan dalam pembangunan fasilitas pendidikan tersebut.
Bangunan yang semestinya menjadi sarana pendukung peningkatan literasi siswa itu kini justru menimbulkan kekhawatiran. Warga sekitar menilai bahwa pengerjaan proyek yang belum lama selesai tersebut seharusnya masih dalam kondisi sempurna, mengingat umur bangunan yang baru sekitar satu bulan. Kondisi cat yang mengelupas di usia muda menunjukkan kemungkinan adanya persoalan dalam proses pengerjaan atau pemilihan bahan bangunan yang tidak sesuai standar.
Ketika awak media mendatangi sekolah pada Sabtu (8/11/2025), Kepala Sekolah SDN 101416 Lumban Jabi-Jabi tidak berada di tempat karena sedang bertolak ke Sipirok. Beberapa guru yang hadir di sekolah mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa pihak pemborong yang menangani pembangunan perpustakaan tersebut. “Kami tidak tahu siapa pemborongnya, karena urusan itu langsung dari dinas,” ujar salah seorang guru yang enggan disebut namanya.
Kondisi ini menimbulkan tanda tanya di kalangan masyarakat dan pemerhati pendidikan di wilayah Tano Tombangan Angkola. Mereka berharap adanya transparansi dalam proses pembangunan sarana pendidikan agar kualitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi, perpustakaan merupakan fasilitas penting untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar serta meningkatkan minat baca siswa sekolah dasar.
Secara ilmiah, kualitas cat bangunan yang cepat terkelupas bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah kurangnya proses persiapan permukaan sebelum pengecatan, penggunaan cat dengan daya rekat rendah, atau kondisi dinding yang masih lembap saat dilakukan pengecatan. Faktor lingkungan seperti curah hujan tinggi dan paparan sinar matahari juga dapat mempercepat proses degradasi cat apabila bahan yang digunakan tidak tahan terhadap cuaca ekstrem.
Pembangunan fasilitas pendidikan sejatinya tidak hanya dinilai dari selesai atau tidaknya proyek, melainkan juga dari mutu dan keberlanjutan pemanfaatannya. Dalam konteks ini, penting bagi pihak terkait untuk melakukan pengawasan berkelanjutan, termasuk evaluasi teknis terhadap kualitas pekerjaan kontraktor. Dengan begitu, dana pembangunan yang bersumber dari anggaran negara dapat memberikan manfaat maksimal bagi dunia pendidikan.
Masyarakat berharap agar Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Selatan segera menindaklanjuti temuan tersebut. Pemeriksaan kualitas bangunan perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Pembangunan yang berorientasi pada mutu bukan hanya mencerminkan tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan wujud nyata dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang layak, aman, dan mendukung kemajuan pendidikan di daerah.(PS/BERMAWI)

