POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Hujan yang tak kunjung reda sejak beberapa hari terakhir tidak hanya mengguyur atap-atap rumah di wilayah Tapanuli Selatan dan sekitarnya, tetapi juga menebarkan rasa waswas di hati para orang tua. Di sejumlah desa, suara deras air sungai terdengar lebih kencang dari biasanya—pertanda bahwa bencana bisa datang kapan saja. Di tengah kegelisahan itulah Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Wilayah XI mengambil langkah cepat demi melindungi para pelajar.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Kacabdisdik Wilayah XI Nomor 400.3/2779/Cabdisdik Wilayah XI/2025, yang memerintahkan seluruh SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta untuk menghentikan sementara aktivitas belajar di sekolah. Para siswa diminta tetap belajar dari rumah mulai 27–28 November 2025, sementara pihak sekolah diminta mengaktifkan sistem pembelajaran daring. Bagi sebagian siswa, ini mungkin sekadar perubahan lokasi belajar—tetapi bagi mereka yang tinggal di daerah rawan longsor, keputusan ini bisa berarti selamatnya nyawa.
Peringatan cuaca ekstrem dari BMKG Stasiun Meteorologi Kelas IV Aek Godang menjadi dasar kebijakan tersebut. BMKG memaparkan adanya potensi hujan sangat lebat, angin kencang, hingga ancaman banjir bandang. Di balik data ilmiah itu, tersimpan cerita masyarakat yang setiap hari hidup berdampingan dengan risiko: para ibu yang sulit tidur karena sungai di dekat rumah mulai meninggi, atau siswa yang harus melewati jalan tanah berlumpur yang sewaktu-waktu bisa amblas.
Secara ilmiah, peningkatan cuaca ekstrem kali ini dipicu anomali suhu muka laut di Samudera Hindia dan pola angin yang tidak stabil. Namun bagi warga, penjelasan itu berwujud nyata pada derasnya air yang menghantam dinding rumah, pepohonan yang bergoyang keras, dan tanah yang mulai retak di beberapa lereng. Sungai-sungai seperti Batang Gadis, Aek Sihapas, dan Aek Sibontar kembali menjadi perhatian utama, terutama bagi para siswa yang setiap hari melintas di pinggirannya.
Di tengah situasi ini, Kacabdisdik Wilayah XI Dr. Tetti Mahrani Pulungan S.Pd., M.Pd. menegaskan bahwa keselamatan anak adalah prioritas di atas segalanya. “Kita tidak ingin ada satu pun pelajar yang menjadi korban hanya karena memaksakan hadir ke sekolah. Belajar bisa ditunda, tapi keselamatan tidak bisa diulang,” ujarnya. Pesan itu langsung sampai ke hati para orang tua yang selama ini cemas melepas anaknya berangkat sekolah dalam kondisi cuaca ekstrem.
Para guru pun ikut merasakan suasana emosional ini. Banyak dari mereka yang harus memastikan siswa tetap belajar, sekaligus memantau keadaan keluarga masing-masing. Beberapa guru di daerah pegunungan bahkan mengaku sinyal internet sering hilang, tetapi mereka tetap berupaya mengirimkan modul belajar melalui grup pesan singkat agar siswa tetap bisa mengerjakan tugas di rumah.
Kebijakan libur dan belajar dari rumah ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal ruang kelas, kurikulum, atau nilai rapor. Lebih dari itu, pendidikan adalah tentang memastikan setiap anak dapat tumbuh dan belajar dalam keadaan aman. kolaborasi antara BMKG dan Cabdisdik Wilayah XI menjadi bukti bahwa mitigasi bencana harus menyentuh hingga ke tingkat paling dasar: melindungi masa depan melalui keselamatan hari ini.(PS/BERMAWI)
