HUMBANG HASUNDUTAN DI BAWAH LANGIT KELAM: RAKOR DARURAT PUSAT, DAERAH PERTEGAS GERAK CEPAT PENANGANAN BENCANA

/ Sabtu, 29 November 2025 / 22.36.00 WIB

 

POSKOTASUMATERA.COM-HUMBAHAS,- Hujan yang turun sepanjang malam kembali menyisakan duka bagi warga Humbang Hasundutan. Tanah yang jenuh air runtuh dari perbukitan, menghilangkan akses, memutus jalur, dan memaksa keluarga mencari tempat aman dengan pakaian yang hanya melekat di tubuh. 

Di tengah suasana muram itu, Pemerintah Pusat bersama Pemkab Humbahas menggelar Rapat Koordinasi Darurat yang menjadi pusat kendali penanganan bencana.

Rakor berlangsung di Posko Bencana Desa Panggugunan, sebuah tempat yang berdiri di tengah bau lumpur basah, raungan alat berat, dan suara warga yang masih mencari anggota keluarga mereka di lokasi terdampak.

Direktur Fasilitasi Penanganan Korban dan Pengungsi, Nelwan Harahap, S.P., M.Tr.A.P., tiba di posko tanpa protokoler berlebih. Sepatunya masih dilumuri lumpur ketika ia menyampaikan arahan tegas kepada seluruh unsur pemerintah daerah.

“Kita sedang berpacu dengan waktu. Setiap jam yang hilang bisa berarti kehilangan nyawa. Semua personel harus bekerja dalam satu komando,” ujarnya lantang.

Kehadiran pejabat pusat ini menjadi penegasan bahwa keadaan Humbang Hasundutan bukan sekadar ‘kejadian lokal’, tetapi situasi yang membutuhkan perhatian nasional.

Sejak dini hari, pemerintah daerah telah mengerahkan alat berat, mengevakuasi warga, hingga mendirikan dapur umum. Dalam rapat, Pemkab memaparkan kondisi mencekam sejak awal bencana terjadi:

  • Akses utama Onan Ganjang–Pakkat sempat lumpuh total oleh longsor.
  • Rumah-rumah penduduk di beberapa titik terendam hingga setinggi pinggang.
  • Sejumlah warga harus dipindahkan pada malam buta ke titik aman demi menghindari potensi runtuhan susulan.

“Kami pastikan tidak ada keluarga yang dibiarkan berjuang sendirian,” ujar pejabat lapangan dalam laporan singkatnya.

Dari posko pengungsian, relawan menceritakan bagaimana seorang ibu membawa dua anaknya melewati lumpur setinggi lutut demi mencari tempat aman. Seorang lansia harus digendong petugas karena tidak bisa berjalan di medan licin. Anak-anak terdengar menangis ketika hujan kembali turun menjelang pagi.

Narasi-narasi inilah yang membuat Rakor tidak sekadar menjadi rapat teknis, tetapi titik balik untuk mempertegas langkah: bencana ini menyentuh kehidupan ribuan orang, dan menyentuh nurani setiap yang hadir.

Rakor menetapkan langkah terpadu dengan prioritas tajam:

1. Buka Akses Apa Pun Risikonya (dengan tetap menjaga keselamatan)

Tim alat berat bekerja tanpa henti, membelah timbunan tanah yang menutup jalur utama. Satu meter jalan yang terbuka berarti terbukanya jalur logistik, evakuasi, dan harapan.

2. Bantuan Tidak Boleh Telat Sejam pun

Semua jenis kebutuhan dasar — dari nasi kotak, selimut, hingga obat-obatan luka — harus sampai sebelum malam berikutnya. Dinas Sosial memastikan distribusi merata, terutama ke desa yang mulai kehabisan stok pangan.

3. Data Lapangan yang Bersih untuk Penanganan yang Tegas

Tim pemetaan bergerak dari rumah ke rumah, mendata kerusakan, memastikan tidak ada warga terlewat, dan mengukur potensi risiko susulan.

BMKG memperingatkan hujan masih akan turun. Dengan kondisi tanah yang labil, potensi longsor susulan membayang di banyak titik kritis. "Direktur Nelwan menegaskan: “Kita harus lebih cepat dari bencana berikutnya. Sistem peringatan dini harus aktif 24 jam.”

Sementara itu, suasana posko tetap hidup: relawan sibuk menyalakan tungku, petugas medis memeriksa warga, dan petugas keamanan menjaga jalur masuk agar operasi tetap terkendali.

Rakor ditutup dengan komitmen bersama bahwa tidak ada jeda dalam penanganan bencana kali ini. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI–Polri, dan relawan bergerak dalam satu garis yang sama: melindungi warga, memulihkan kondisi, dan memastikan Humbang Hasundutan bangkit dari hari-hari kelam ini. (PS/BN)


Komentar Anda

Terkini: