Jalan Nasional Aek Sijorni Kembali Bisa Dilalui — Warga Lega, Aktivitas Mulai Hidup Kembali Saat Jelang Magrib Turun

/ Kamis, 27 November 2025 / 18.37.00 WIB

Camat Sayurmatinggi Enri Cofermi Batubara M.Pd

POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Rasa lega menyelimuti warga Desa Aek Libung Kecamatam Sayurmatinggi dan para pengguna jalan saat cahaya Magrib turun, Kamis (27/11/2025) pukul 18.00 WIB. Setelah lebih dari dua hari terputus akibat banjir besar, Jalan Nasional Aek Sijorni akhirnya kembali bisa dilalui kendaraan roda dua dan roda empat. Jalan yang biasanya ramai ini sebelumnya berubah menjadi sungai dadakan akibat hujan deras yang mengguyur sejak Senin malam (25/11/2025).


Sejak pagi, sejumlah warga tampak berdiri di pinggir jalan, menyaksikan air yang perlahan surut. Bagi mereka, jalan bukan sekadar infrastruktur — tetapi juga nadi penghubung aktivitas, tempat penghidupan, dan jalur yang setiap hari mereka lewati untuk bekerja, berbelanja, atau sekadar berkumpul. Ketika arus lalu lintas mulai bergerak kembali, ekspresi lega terlihat jelas di wajah masyarakat.


Di tengah proses surutnya air, beberapa warga bahu-membahu membersihkan sisa lumpur di badan jalan. Mereka bekerja tanpa diminta, hanya berbekal sapu, cangkul, dan semangat kebersamaan. “Kalau bukan kita, siapa lagi? Yang penting jalan cepat bersih, biar orang-orang bisa lewat aman,” ujar seorang warga yang sejak siang ikut membantu membuka saluran air.


Camat Sayurmatinggi, Enri Cofermi Batubara, M.Pd, yang memantau langsung di lokasi, menggambarkan situasi dua hari terakhir sebagai salah satu kejadian paling menegangkan bagi warga. Ia menceritakan bagaimana pemerintah kecamatan, BPBD Tapanuli Selatan, dan warga bekerja tanpa henti menyusuri aliran yang tersumbat. “Alhamdulillah, jelang Magrib, mobil dan sepeda motor sudah bisa melintas dengan aman. Ini hasil gotong royong semuanya,” ucapnya dengan nada syukur.


Bagi sopir angkutan dan pedagang yang sejak kemarin terjebak menunggu jalur dibuka, kabar ini menjadi harapan baru. Seorang pengemudi travel asal Padangsidimpuan mengaku akhirnya bisa melanjutkan perjalanan setelah sempat tertahan lebih dari 24 jam. “Penumpang sudah gelisah. Kami hanya bisa menunggu. Syukurlah sekarang bisa jalan lagi,” tuturnya.


Meski jalur kembali dibuka, suasana kehati-hatian masih terasa. Sisa lumpur yang licin dan tanah labil membuat sejumlah pengendara menurunkan kecepatan. Petugas juga tetap bersiaga, mengantisipasi hujan susulan yang kerap datang tiba-tiba belakangan ini. Bagi warga, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa musim hujan kali ini tidak bisa dianggap biasa—cuaca ekstrem terasa makin dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Pemulihan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi masyarakat Aek Sijorni dan pengguna jalan nasional, momen Magrib itu bukan sekadar jalan yang kembali terbuka. Ia adalah simbol bahwa setelah dua hari penuh kecemasan, kehidupan bisa berdenyut lagi. Suara mesin kendaraan yang kembali terdengar justru menjadi tanda harapan: bahwa mereka mampu bangkit melalui kebersamaan.(PS/BERMAWI)


Komentar Anda

Terkini: