POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Suasana penuh kehangatan mewarnai kegiatan kunjungan religi dan kemanusiaan yang dilakukan SMAN 2 Plus Sipirok ke SLBN Angkola Timur pada Rabu (19/11/2025). Kegiatan ini menjadi momen penting dalam upaya menumbuhkan karakter, kepekaan sosial, serta empati siswa melalui interaksi langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Puluhan Siswa dan guru hadir, membawa semangat berbagi dan saling memahami.
Kepala SMAN 2 Plus Sipirok, Khairul Faiz Nasution, S.Pd., M.Si., mengatakan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari program OSIS yang diarahkan untuk memperkaya pengalaman emosional dan karakter peserta didik. “Tujuan kunjungan siswa dan guru ke SLBN Angkola Timur adalah menumbuhkan rasa empati, rasa syukur, serta menguatkan semangat berbagi antarsesama. Program OSIS ini kami rancang untuk memperkaya pengalaman karakter siswa,” ujarnya.
Interaksi yang tercipta selama kegiatan berlangsung terasa begitu natural. Siswa SMAN 2 Plus Sipirok berbaur dengan siswa SLB melalui sesi perkenalan, permainan edukatif, hingga kegiatan religi bersama. Tawa, senyum, dan perhatian yang terpancar dari kedua belah pihak menciptakan ruang pembelajaran yang jauh lebih bermakna dibanding teori di dalam kelas. Bagi sebagian siswa, ini menjadi pengalaman pertama berinteraksi dengan teman-teman berkebutuhan khusus.
Pihak SLBN Angkola Timur yang diwakili Wakasek Kesiswaan, mewakili Kepala Sekolah Nuryaningsih, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi mendalam atas kunjungan tersebut. Ia menegaskan bahwa perhatian dari sekolah umum seperti SMAN 2 Plus Sipirok tidak hanya memberi kebahagiaan bagi anak-anak, tetapi juga membuka pemahaman bahwa pendidikan inklusif adalah tanggung jawab bersama. “Kami sangat berterima kasih. Anak-anak di sini merasa diperhatikan dan dihargai. Ini adalah pengalaman penting bagi kedua belah pihak,” tuturnya.
Secara psikologis dan ilmiah, kegiatan sosial seperti ini menjadi bagian penting dalam pembentukan kecerdasan emosional (EQ) para remaja. Melalui interaksi langsung, siswa belajar memahami perbedaan, menerima keberagaman kemampuan, serta menumbuhkan sikap peduli terhadap sesama. Nilai empati dan rasa syukur yang tumbuh dari pengalaman nyata terbukti lebih kuat membentuk perilaku prososial dibandingkan hanya melalui teori.
Kunjungan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pendidikan karakter tidak hanya dibangun melalui proses belajar formal. Melihat langsung perjuangan dan ketulusan siswa SLB memberi pelajaran berharga tentang ketabahan, kesederhanaan, dan arti berbagi. Dari momen inilah para siswa diharapkan mampu membawa pulang pemahaman baru tentang tanggung jawab mereka sebagai generasi muda yang siap memberi kontribusi bagi lingkungan sosial.
Di akhir kegiatan, Kepala SMAN 2 Plus Sipirok menegaskan bahwa program serupa akan terus dilanjutkan dan dikembangkan. Ia mendorong OSIS serta seluruh unsur sekolah untuk menciptakan lebih banyak kegiatan sosial yang menyentuh dan bermanfaat. “Kegiatan seperti ini akan menjadi budaya sekolah, agar pendidikan karakter di SMAN 2 Plus Sipirok semakin berdaya guna,” ungkapnya.(PS/BERMAWI)
