POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Suara kecemasan masih terasa di Desa Tandihat, Kecamatan Angkola Selatan, sejak retakan panjang membelah permukiman warga dan memaksa ratusan jiwa mengungsi. Di tengah rasa takut akan pergerakan tanah yang terus mengancam, kehadiran Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, pada Senin pagi (1/12/2025), menjadi setitik penguat di antara hari-hari penuh ketidakpastian itu.
Fenomena tanah retak yang muncul sejak Rabu (26/11) bukan hanya memisahkan struktur tanah, tetapi juga meretakkan rasa aman warga. Puluhan rumah retak, sebagian roboh, dan sisanya terpaksa dikosongkan. “Kami tidak tahu harus mulai dari mana. Yang kami pikirkan hanya keselamatan,” kata seorang ibu yang menggendong anaknya sambil menatap posko pengungsian sederhana tempat mereka bermalam selama empat hari.
Kedatangan Bupati Gus Irawan disambut hangat warga yang sudah menunggu sejak pagi. Begitu turun dari mobil, beliau langsung menyalami warga satu per satu, termasuk para ibu dan lansia yang tampak paling rentan. Tetapi momen paling menyentuh adalah ketika sejumlah anak kecil berlari mendekat. Dengan senyum, Bupati mengusap kepala mereka sambil membagikan roti. “Ini untuk kalian ya, tetap semangat,” katanya. Sekilas, tawa kecil terdengar—tawa yang selama beberapa hari terakhir jarang muncul di posko.
Seorang warga, dengan suara bergetar, mengungkapkan harapannya. “Alhamdulillah, kami merasa tidak ditinggalkan. Kedatangan Pak Bupati membuat kami lebih tenang,” ujarnya sambil menyeka air mata. Kehadiran pemimpin di tengah bencana, bagi mereka, bukan sekadar simbol, tetapi sumber kekuatan moral untuk bangkit menghadapi apa yang mungkin terjadi berikutnya.
Dalam dialognya dengan warga, Gus Irawan menjelaskan bahwa bencana kali ini adalah salah satu yang paling luas dalam beberapa tahun terakhir. “Dari 15 kecamatan, 13 terdampak. Kita hadapi ini dengan sabar dan gotong-royong. Pemulihan akan bertahap, tapi kita kerjakan secepat yang kita bisa,” ucapnya. Ia juga mengakui kesulitan menjangkau seluruh zona terdampak dalam waktu bersamaan, namun memastikan bahwa setiap lokasi tetap dipantau dengan ketat.
Bupati turut menekankan pentingnya modal sosial masyarakat Tapsel—kekuatan kolektif yang selama ini menjadi benteng saat bencana datang silih berganti. Ia mencontohkan bagaimana warga Desa Batu Hula tanpa ragu membuka tenda darurat bagi warga Garoga dan Huta Godang yang terisolasi. “Inilah kekuatan kita. Koum Sisolkot selalu saling menjaga,” tegasnya.
Di sisi lain, Kepala Desa Tandihat, Ranto Panjang Sipahutar, menyampaikan laporan kondisi aktual. Retakan tanah masih aktif dan bisa melebar jika curah hujan meningkat. Ia menilai perlu langkah-langkah teknis lanjutan seperti pemasangan alat pemantau pergerakan tanah, penataan ulang drainase, serta kemungkinan relokasi sebagian rumah yang berdiri tepat di zona rawan. “Kami berharap segala upaya yang dilakukan pemerintah bisa mengembalikan rasa aman warga,” ujarnya.
Di tengah kesedihan dan kekhawatiran, terpancar satu hal yang sama dari wajah warga Tandihat: harapan. Harapan bahwa tanah yang mereka pijak akan kembali stabil. Harapan bahwa rumah, sekolah, dan halaman tempat anak-anak bermain dapat kembali digunakan seperti sediakala. Dan yang terpenting, harapan bahwa mereka tidak berjalan sendiri menghadapi musibah ini.
(PS/BERMAWI)


