Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan penderita Tuberculosis (TB) Paru dan keluarga mereka, serta memperkuat peran serta masyarakat dalam pemberantasan penyakit TB. Kegiatan ini didanai oleh Simlitabmas dan melibatkan 30 peserta sebagai sasaran utama.
Ketua tim pengmas, Cecep Triwibowo, MSc, menjelaskan, “Pengobatan TB membutuhkan waktu panjang antara 6–8 bulan dan melibatkan berbagai macam obat dengan efek samping tertentu. Hal ini kerap membuat pasien kurang patuh. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, kami berharap dapat menambah pengetahuan penderita TB dan keluarga mereka mengenai TB Paru.” katanya pada wartawan, Kamis (11/12)
Salah satu peserta pelatihan, Bapak Adi, menyampaikan rasa terima kasihnya. “Saya sekarang paham tentang penyakit TB, termasuk penyebab, risiko, perawatan, dan pencegahannya. Pentingnya peran keluarga dalam kepatuhan minum obat bagi penderita TB juga makin jelas bagi kami,” ujarnya.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan baru, tetapi juga terbukti meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan keluarga, sehingga mendukung proses pencegahan dan pengendalian TB Paru di lingkungan rumah.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya Pengabdian kepada Masyarakat, yang bertujuan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan masyarakat dan lingkungan sekitar. (PS/TIM)
