Empat Titik Longsor di Aek Martolu dan Enam Titik di Tangga Batu Masih Isolasi, Warga Siuhom Butuh Alat Berat untuk Pemulihan

/ Selasa, 09 Desember 2025 / 08.56.00 WIB

Keterangan Gambar : Longsor Dusun Aek Martolu Desa Siuhom.Kecamatan Angkola Barat

POSKOTASUMATERA.COM-TAPSEL – Sejak bencana longsor yang terjadi pada 25 Oktober 2025, Desa Siuhom, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan, terus berada dalam kondisi darurat. Data awal menunjukkan bahwa Dusun Aek Martolu yang dihuni 31 KK terdampak oleh empat titik longsor, sementara Dusun Tangga Batu dengan 72 KK menghadapi enam titik longsor yang hingga kini masih menyebabkan wilayah tersebut terisolir. Situasi ini tidak hanya menghambat akses mobilitas warga, tetapi juga mengganggu distribusi kebutuhan dasar serta layanan kesehatan.

Dari perspektif kebencanaan, kondisi tanah di wilayah Angkola Barat yang didominasi struktur lereng terjal dan lapisan tanah lempung membuat kawasan ini rentan terhadap pergerakan tanah ketika curah hujan meningkat. Fenomena longsor yang beruntun pada akhir Oktober hingga November 2025 memperkuat temuan ilmiah bahwa perubahan intensitas hujan ekstrem akibat variabilitas iklim turut meningkatkan risiko geologi di daerah-daerah pegunungan seperti Siuhom. Penumpukan massa tanah yang jenuh air membuat lereng kehilangan daya ikatnya dan mengakibatkan runtuhan dengan skala yang cukup besar.


Setelah lebih dari satu bulan terisolir, upaya pemulihan berbasis komunitas menjadi penopang utama bagi warga. Dusun Tangga Batu, yang sebelumnya tidak bisa dilalui sama sekali, kini mulai dapat diakses oleh kendaraan roda dua. Akses itu terbuka berkat gotong royong masyarakat pada Rabu pekan lalu, sebuah langkah yang menegaskan kuatnya solidaritas sosial sebagai mekanisme adaptasi bencana. Kendati demikian, proses pemulihan masih jauh dari selesai, karena material longsor yang besar tidak bisa ditangani hanya dengan peralatan manual.


Dari sudut pandang rekayasa teknis, penanganan longsor di enam titik Dusun Tangga Batu dan empat titik di Aek Martolu membutuhkan intervensi alat berat untuk menyingkirkan tanah, batu, dan batang pohon yang menutup akses jalan. Selain itu, stabilisasi lereng melalui drainase, pemasangan bronjong, dan pemadatan kontur tanah perlu dipertimbangkan untuk menghindari longsor susulan. Tanpa tindakan komprehensif, jalan yang sudah dibuka masyarakat tetap berada dalam kondisi rentan dan berpotensi kembali tertutup jika terjadi hujan deras.


Sesaat setelah kejadian, pemerintah kecamatan bergerak cepat melakukan asesmen lapangan. Camat Angkola Barat Muhammad Tohir Pasaribu, didampingi Sekcam Ahmad Pilihan, turun langsung ke titik longsor bersama Bhabinkamtibmas, Babinsa, serta jajaran OPD Tapanuli Selatan, termasuk Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ongku Muda Sormin. dan didampingi Kepala Desa Siuhom Amantua Simamora. Kehadiran unsur lintas sektoral ini menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak lagi hanya bersifat reaktif, tetapi juga berbasis pada koordinasi multi-instansi sebagaimana diamanatkan dalam manajemen risiko bencana.


Kehadiran para pemangku kepentingan memungkinkan pengumpulan data awal mengenai dimensi longsor, kebutuhan alat berat, dan prioritas pemulihan. Informasi tersebut penting sebagai dasar perencanaan penanganan terpadu yang menyesuaikan antara kebutuhan warga, kondisi geografis, serta kemampuan pemerintah daerah untuk mengintervensi. Di beberapa titik, material longsor mencapai ketebalan hingga beberapa meter, sehingga pembersihan manual diperkirakan akan memakan waktu yang sangat lama dan berisiko bagi keselamatan warga.


Kepala Desa Siuhom, Amantua Simamora, dalam keterangannya kepada awak media di Kantor Camat Angkola Barat, Selasa (9/12/2025), menyampaikan bahwa kebutuhan mendesak saat ini meliputi alat berat dan pembersihan menyeluruh pada titik-titik longsor yang masih menutup akses. Ia menekankan bahwa selama akses belum pulih, warga dua dusun tersebut tetap berada dalam kondisi kerentanan tinggi, terutama dalam hal pemerataan bantuan dan pelayanan darurat. Pemerintah desa berharap dukungan percepatan dari pihak kabupaten agar situasi dapat kembali normal sebelum intensitas hujan meningkat pada akhir tahun.(PS/BERMAWI)


Komentar Anda

Terkini: