POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Suasana haru dan penuh syukur mewarnai Kantor Desa Hutaraja Kecamatan Tano Timbangam Angkola pada Kamis, 11 Desember 2025. Pagi itu, 60 warga berkumpul dengan wajah antusias mengikuti pembagian tabungan Bank Desa Hutaraja—sebuah program yang telah menjadi pegangan masyarakat setiap menjelang akhir tahun. Total saldo sebesar Rp 81 juta disalurkan, tidak hanya sebagai angka, tetapi sebagai napas baru bagi keluarga yang tengah mempersiapkan kebutuhan Natal dan Tahun Baru.
Bagi sebagian warga, tabungan desa ini bukan sekadar bantuan finansial; ia hadir seperti “penolong tahunan” yang selalu dinanti. Ada yang menggunakannya untuk membeli kebutuhan dapur, ada pula yang memanfaatkannya untuk biaya sekolah anak yang memasuki semester baru. Di tengah naiknya harga bahan pokok, bantuan ini menjadi ruang lega yang sangat berarti bagi rumah tangga kecil di Hutaraja.
Kepala Desa Hutaraja, Jupri Sugianto Simanjutak, tampak menyapa satu per satu warga yang hadir. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa program tabungan desa adalah bentuk komitmen pemerintah desa untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat, bukan hanya menjelang hari besar, tetapi juga sepanjang tahun. “Ini bukan hanya tentang membagi tabungan. Ini tentang menjaga agar warga kita tetap kuat secara ekonomi. Semoga bermanfaat, khususnya menghadapi Natal dan Tahun Baru,” ujarnya dengan nada penuh empati.
Secara manusiawi, program seperti ini memberi dampak yang jauh lebih besar dari sekadar angka. Warga mengaku merasa dihargai, diperhatikan, dan diberi ruang untuk tetap mandiri. Ketua BPD , salah satu penerima manfaat, menyampaikan rasa terima kasih sambil menahan haru. “Setiap tahun saya tunggu ini. Bisa buat belanja anak-anak, bisa buat baju Natal. Terima kasih banyak untuk pemerintah desa,” tuturnya.
Selain pembagian tabungan, kegiatan pagi itu juga berubah menjadi ruang cerita dan aspirasi. Para ibu bertukar pandangan tentang usaha kecil yang ingin mereka jalankan, sementara para pemuda berdiskusi mengenai rencana pemanfaatan pasar desa. Pemerintah desa memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan edukasi finansial sederhana agar masyarakat dapat mengelola tabungan secara bijak dan berkelanjutan.
Program Bank Desa Hutaraja kini menjadi contoh bagaimana intervensi ekonomi berskala desa mampu menggerakkan semangat kolektif. Ketika masyarakat diberi ruang untuk menabung, mengelola, dan memanfaatkan dana secara mandiri, maka lahirlah kemandirian ekonomi yang tumbuh dari bawah. Di tengah tantangan ekonomi yang tidak selalu stabil, langkah kecil seperti ini memberi dampak besar bagi ketahanan sosial warga.
Penyaluran tabungan tahun ini menutup akhir 2025 dengan rasa kebersamaan yang lebih kuat. Di Hutaraja, ekonomi bukan hanya perkara angka—tetapi perkara harapan, gotong royong, dan keyakinan bahwa kesejahteraan bisa dibangun bersama. (PS/BERMAWI)
