POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Di tengah kabut duka yang masih menyelimuti kawasan Tapanuli Selatan akibat banjir bandang dan longsor, secercah harapan hadir dari Desa Perkebunan Hapesong, Kecamatan Batangtoru. Tanpa menunggu waktu lama, pemerintah desa bersama masyarakat bergerak menyalurkan bantuan ke sejumlah titik terdampak, mulai dari Dapur Umum Batangtoru hingga wilayah Rambangan dan Lobu Uhom yang aksesnya cukup terhambat.
Di area dapur umum yang berada di belakang Kantor Camat Batangtoru, aroma masakan dari para relawan menjadi simbol keteguhan warga dalam bertahan. Di tempat inilah bantuan berupa lauk pauk dan sayuran dari Hapesong diterima dengan penuh syukur. Para ibu relawan yang sibuk mengaduk wajan besar sejenak menghentikan aktivitasnya ketika rombongan Hapesong tiba, menyampaikan terima kasih karena bantuan tersebut sangat dibutuhkan untuk melayani ratusan warga terdampak dari berbagai dusun.
Sementara itu, di Dusun Rambangan, Desa Simatohir, Kecamatan Angkola Sangkunur, suasana berbeda terasa. Longsor yang menutup sebagian akses jalan membuat distribusi logistik tersendat. Namun kedatangan bantuan dari Hapesong membawa kelegaan tersendiri. Warga yang sudah beberapa hari mengandalkan pasokan terbatas kini bisa kembali bernapas lega. Para relawan setempat mengakui bahwa setiap bantuan yang datang bukan hanya soal pangan, tetapi juga penguat mental untuk terus bertahan dalam masa sulit.
Kondisi serupa tampak di Dusun Lobu Uhom, Desa Panobasan Lombang, Kecamatan Angkola Barat. Banjir dan longsor merusak sejumlah titik pemukiman dan membuat sebagian warga mengungsi ke rumah keluarga. Bantuan sembako yang dibawa pemerintah Desa Perkebunan Hapesong menjadi penguat solidaritas lintas wilayah. Di dusun ini, beberapa warga bahkan terlihat menahan haru saat menerima paket bantuan, menggambarkan betapa rentannya kondisi mereka setelah kehilangan sebagian harta benda.
Kepala Desa Perkebunan Hapesong, Bambang Hermanto, yang memimpin langsung penyaluran bantuan, mengatakan bahwa langkah ini lahir dari kepedulian bersama. “Ini bukan tentang besar kecilnya bantuan, tetapi tentang hadirnya saudara saat yang lain sedang kesusahan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam situasi bencana, jarak antar desa bukanlah batas, melainkan jembatan solidaritas.
Aksi cepat ini selaras dengan prinsip community-based disaster response, di mana masyarakat menjadi aktor utama dalam memperkuat ketahanan sosial pascabencana. Dalam kacamata ilmiah, respons cepat seperti ini membantu mencegah secondary disaster, mulai dari langkanya logistik, meningkatnya risiko penyakit, hingga tekanan psikologis yang dialami warga terdampak.
Gerak cepat dan empati Desa Perkebunan Hapesong menunjukkan bahwa kekuatan terbesar daerah bukan hanya pada infrastruktur atau kebijakan, tetapi pada hati masyarakatnya. Ketika bencana datang tanpa permisi, gotong royonglah yang menjadi penyangga utama. Dan di Tapanuli Selatan, nilai itu kembali terbukti tak pernah padam.
(PS/BERMAWI)

