POSKOTASUMATERA.COM-TAPUT,- Wabah African Swine Fever (ASF) kembali menimbulkan keresahan di kalangan peternak babi tradisional di Kabupaten Tapanuli Utara. Penyakit mematikan yang menyerang ternak babi ini membuat para peternak kecil berada dalam kondisi tertekan, baik secara ekonomi maupun psikologis.
Keresahan tersebut disampaikan oleh salah seorang peternak babi tradisional, M. Sinaga, saat ditemui wartawan pada Sabtu, 7 Februari 2026, di kawasan Jalan Tarutung–Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara.
Merebaknya virus ASF menyebabkan banyak ternak babi milik peternak tradisional mengalami penurunan kesehatan, tidak mau makan, bahkan mati secara mendadak. Kondisi ini membuat para peternak khawatir akan keberlangsungan usaha ternak yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama mereka.
Pihak yang paling terdampak adalah peternak babi tradisional atau peternak rakyat, khususnya yang memelihara babi kampung dalam skala kecil hingga menengah. Selain itu, masyarakat luas juga berpotensi terdampak apabila daging babi yang tidak sehat beredar di pasaran.
Keresahan ini mencuat dalam beberapa waktu terakhir dan semakin dirasakan pada awal Februari 2026, seiring dengan maraknya informasi di media sosial terkait jual beli babi yang diduga tidak sehat.
Kasus ini terjadi di wilayah Kabupaten Tapanuli Utara, khususnya di sekitar Tarutung hingga Siborongborong, yang dikenal sebagai salah satu sentra peternakan babi tradisional di wilayah Tapanuli.
M. Sinaga mengungkapkan bahwa selain ancaman virus ASF, para peternak juga resah dengan munculnya agen atau pembeli tidak jelas identitasnya yang menawarkan harga sangat murah untuk babi yang sakit atau tidak mau makan.
“Kami sebagai peternak tradisional babi kampung sangat resah dengan penyakit yang ada sekarang ini. Kami mohon keseriusan Dinas Peternakan untuk benar-benar menangani masalah ini,” ujar M. Sinaga.
Ia menambahkan, di media sosial beredar banyak pihak yang secara terbuka mencari babi sakit atau babi yang tidak mau makan untuk dibeli. Hal ini menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat.
Muncul pertanyaan besar di tengah masyarakat Tapanuli Utara terkait ke mana babi-babi yang tidak sehat tersebut disalurkan. Masyarakat khawatir ternak yang terindikasi sakit itu justru dipotong dan diedarkan sebagai daging konsumsi demi meraup keuntungan besar.
Padahal, daging babi yang berasal dari ternak sakit sangat berbahaya jika dikonsumsi, karena berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi masyarakat.
Oleh karena itu, para peternak dan masyarakat meminta keseriusan dan tindakan nyata dari instansi terkait, seperti: Dinas Peternakan Kabupaten Tapanuli Utara, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Taput, BPOM serta aparat pengawasan pangan lainnya
Langkah yang diharapkan antara lain berupa pengawasan lalu lintas ternak, edukasi kepada peternak, penertiban pedagang nakal, serta jaminan bahwa daging yang beredar di pasaran benar-benar layak dan aman dikonsumsi.
Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak tinggal diam, agar wabah ASF dapat ditekan dan kepercayaan publik terhadap keamanan pangan di Tapanuli Utara tetap terjaga. (PS/EN)
