POSKOTASUMATERA.COM–TAPSEL– Harapan baru kini tumbuh di kawasan Hunian Sementara (Huntara) Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Di antara deretan bangunan sederhana yang sebelumnya menjadi simbol fase darurat pascabencana, geliat aktivitas produktif masyarakat mulai membentuk lanskap sosial yang lebih dinamis. Melalui kolaborasi antara PT Nindya Karya dan Handicraft Pass, kawasan ini bertransformasi dari ruang hunian sementara menjadi pusat pertumbuhan kemandirian ekonomi berbasis komunitas.
Program Handicraft Pass yang dibina oleh Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sumatera Utara dirancang dengan pendekatan pemberdayaan partisipatif. Tidak hanya memperhatikan aspek fisik lingkungan, program ini menyentuh dimensi sosial-ekonomi melalui pelibatan langsung warga dalam penghijauan, penataan lanskap, serta produksi kerajinan kreatif bernilai tambah. Model ini sejalan dengan konsep community-based development, di mana masyarakat menjadi subjek sekaligus pelaku utama proses pemulihan.
Dari perspektif psikososial, keterlibatan aktif warga dalam kegiatan produktif berkontribusi pada pemulihan rasa percaya diri dan kohesi sosial. Pascabencana, kelompok masyarakat rentan kerap menghadapi trauma kolektif dan ketidakpastian ekonomi. Dengan membuka ruang partisipasi dan peluang kerja, program ini membantu memulihkan agency atau daya kendali individu terhadap masa depannya.
Setiap bibit pohon yang ditanam dan setiap produk kerajinan yang dihasilkan menjadi simbol resiliensi dan keberlanjutan harapan. Secara ekologis, penghijauan kawasan Huntara memberikan dampak signifikan terhadap kualitas lingkungan. Penanaman vegetasi berperan dalam meningkatkan serapan karbon, menjaga stabilitas tanah, serta mengurangi potensi erosi dan limpasan air permukaan. Lingkungan yang lebih hijau juga menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk dan sehat, sehingga meningkatkan kualitas hidup warga, khususnya anak-anak dan lansia yang bermukim di kawasan tersebut.Transformasi ini menunjukkan integrasi antara rehabilitasi lingkungan dan pembangunan sosial.
Pimpinan Handicraft Pass, Satli Siregar, menegaskan bahwa orientasi utama program adalah membangun fondasi ekonomi jangka panjang. Pelibatan tenaga kerja lokal tidak hanya membuka akses pendapatan, tetapi juga meningkatkan keterampilan teknis, kreativitas, serta literasi kewirausahaan masyarakat.
Pendekatan capacity building ini dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan usaha mikro yang tumbuh dari kawasan Huntara.Penguatan kapasitas tersebut semakin kokoh melalui pendampingan dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sumatera Utara. Warga memperoleh pelatihan manajemen usaha, pengemasan produk, standardisasi mutu, hingga strategi pemasaran berbasis digital. Dengan demikian, produk kerajinan yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai estetika lokal, tetapi juga daya saing di pasar regional bahkan nasional. Ekosistem kewirausahaan yang terbentuk menjadi indikator penting transformasi sosial-ekonomi yang berkelanjutan.
Kolaborasi ini menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak dapat berhenti pada pembangunan infrastruktur semata. Rekonstruksi fisik perlu diiringi rehabilitasi sosial, ekologis, dan ekonomi secara terpadu. Melalui amanah yang diberikan kepada Handicraft Pass, PT Nindya Karya menghadirkan pendekatan holistik yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan.
Dari Huntara Batangtoru, lahir pesan kuat bahwa kolaborasi multipihak mampu mengubah ruang darurat menjadi ruang tumbuh—menghadirkan kemandirian, martabat, dan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat.
(PS/BERMAWI)



