POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Pagi itu, halaman SMKN 1 Tano Tombangan Angkola dipenuhi wajah-wajah muda yang duduk rapi, sebagian membawa Al-Qur’an, sebagian lain menatap panggung dengan penuh harap. Di bawah langit yang cerah, peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW terasa lebih dari sekadar seremonial. Ia hadir sebagai ruang pertemuan hati—antara siswa, guru, orang tua, dan masyarakat—dalam menyambut Ramadhan 1447 Hijriah. Mengusung tema “Membersihkan Jiwa melalui Hikmah Isra’ Mi’raj Guna Menjemput Keberkahan Ramadhan”, kegiatan ini menjelma menjadi momen refleksi bersama.
Antusiasme terlihat dari kehadiran berbagai unsur masyarakat: Komite Sekolah, BKMT Muslimat NU, Barisan Orang Tua, hingga perwakilan KUA Tantom Angkola dan KUA Sayurmatinggi. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan remaja di era digital, sekolah berupaya menghadirkan ruang teduh untuk menanamkan nilai spiritual dan karakter.
Ketua Komite Sekolah, Padot Harahap, memandang peringatan ini sebagai jembatan silaturahmi antara sekolah dan keluarga. Menurutnya, membangun karakter generasi muda tidak bisa berjalan sendiri. “Kolaborasi orang tua dan sekolah adalah benteng utama menghadapi tantangan pergaulan remaja saat ini,” ujarnya. Kalimat itu disambut anggukan para orang tua yang hadir, seolah menemukan harapan bersama di ruang yang sama.
Apresiasi juga datang dari Penyuluh Agama KUA Tantom Angkola, Adnan Yahya Siregar, yang mewakili Anwar Budi Nasution. Ia menegaskan bahwa KUA hadir bukan hanya dalam urusan pernikahan, tetapi juga sebagai mitra pendidikan moral masyarakat. Edukasi keagamaan yang inklusif, katanya, menjadi fondasi masyarakat yang harmonis, toleran, dan berkarakter.
Di hadapan ratusan siswa, Kepala SMKN 1 Tano Tombangan Angkola, Agus Zulpan Harahap, menyampaikan pesan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengajak siswa menjaga diri dari narkoba, disiplin waktu, dan membiasakan pulang sebelum pukul 16.00 WIB.
Menjelang akhir sambutannya, ia memohon doa untuk rencana keberangkatannya bersama istri ke Tanah Suci pada Mei 2026—sebuah momen yang disambut tepuk tangan hangat penuh harap.
Suasana menjadi syahdu saat Ustaz Sapriono Siregar menyampaikan tausiah yang diiringi lantunan sholawat. Kisah perjalanan Isra Mi’raj—dari perintah 50 waktu shalat hingga menjadi lima waktu—disampaikan dengan bahasa yang menyentuh hati. Pesan yang mengemuka sederhana namun mendalam: shalat bukan sekadar kewajiban, melainkan latihan kedisiplinan hidup dan jalan penyucian jiwa.
Nilai-nilai karakter pun mengalir dalam pesan tausiah: memperbanyak sedekah, berbakti kepada orang tua, memuliakan guru, serta membiasakan istighfar sebagai jalan kemudahan hidup. Ramadhan digambarkan sebagai ruang refleksi untuk memulai kembali—menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin.
Kegiatan ditutup dengan doa penampilan nasyid keluarga besar SMKN 1 Tantom Angkola yang menambah kehangatan suasana. Hari itu, siswa tidak hanya diajak membaca Al-Qur’an, tetapi juga “membaca alam” sebagai tanda kebesaran Tuhan. Isra Mi’raj pun meninggalkan pesan yang kuat: pendidikan bukan hanya tentang ilmu, tetapi juga tentang membentuk hati—agar generasi muda siap menjemput keberkahan Ramadhan dengan iman, karakter, dan harapan.(PS/BERMAWI)
