POSKOTASUMATERA.COM–TAPSEL – Semangat kebersamaan kembali hidup di tepian Sungai Batangtoru ketika warga bergandengan tangan dengan prajurit TNI Angkatan Darat membangun rambin sepanjang 140 meter yang kini menjadi penghubung vital antara Kecamatan Muara Batang Toru, Kecamatan Batang Toru dan Kecamatan Angkola Sangkunur.
Di tengah keterbatasan, tawa, keringat, dan tekad warga berpadu menjadi energi kolektif yang menghidupkan kembali jalur yang sempat terputus, menghadirkan harapan baru bagi ribuan aktivitas harian masyarakat.
Kepala Desa Bandar Hapinis, Muslim Nasution, menuturkan bahwa pembangunan rambin lahir dari kebutuhan mendesak warga yang selama berbulan-bulan harus menempuh perjalanan memutar dengan jarak lebih jauh. Bagi masyarakat desa, akses bukan sekadar jalan, melainkan denyut kehidupan: jalur menuju sekolah, pasar, ladang, hingga layanan kesehatan.
Kehilangan jembatan lama membuat aktivitas warga terasa berat, hingga akhirnya inisiatif gotong royong menjadi solusi yang tumbuh dari kepedulian bersama. Ingatan warga masih lekat pada banjir bandang 25 November 2025 yang menghanyutkan jembatan lama.
Sejak saat itu, Sungai Batangtoru seolah menjadi batas yang memisahkan rutinitas harian. Namun, alih-alih larut dalam kesulitan, masyarakat memilih bangkit. Rambin yang kini berdiri menjadi simbol ketangguhan warga dalam beradaptasi terhadap ancaman bencana yang semakin nyata akibat dinamika cuaca ekstrem dan kondisi geografis wilayah.. Pembangunan rambin berlangsung dengan suasana kebersamaan yang hangat.
Aparat desa, tokoh masyarakat, pemuda, hingga prajurit TNI bekerja berdampingan sejak pagi hingga senja. Ada yang mengangkat material, merangkai tali, hingga menyiapkan konsumsi bagi para pekerja. Bagi warga, proses ini bukan hanya tentang membangun jembatan, tetapi juga mempererat hubungan sosial yang menjadi kekuatan utama desa.
Kehadiran rambin membawa perubahan nyata bagi kehidupan sehari-hari. Petani kini lebih mudah mengangkut hasil panen, pedagang kembali lancar menuju pasar, dan anak-anak dapat menyeberang dengan rasa aman menuju sekolah.Waktu tempuh yang sebelumnya berlipat kini kembali singkat, membuka kembali roda ekonomi lokal yang sempat melambat. Lebih dari sekadar infrastruktur sederhana, rambin ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu harus menunggu bantuan besar.
Ketika masyarakat menjadi pelaku utama, solusi dapat lahir dari solidaritas dan kearifan lokal. Kolaborasi bersama TNI memperlihatkan bahwa sinergi antara masyarakat dan negara mampu menghasilkan dampak nyata yang dirasakan langsung di tingkat akar rumput.
Kini, setiap langkah yang melintasi rambin Sungai Batangtoru membawa cerita tentang persatuan dan harapan. Jembatan itu tidak hanya menghubungkan dua kecamatan, tetapi juga menyatukan semangat kebersamaan warga dalam menghadapi tantangan alam. Rambin tersebut berdiri sebagai simbol bahwa gotong royong tetap menjadi kekuatan terbesar masyarakat dalam membangun masa depan.(PS/BERMAWI)
