Guru Piket Keliling di SMAN 6 Padangsidimpuan, Pendekatan Ilmiah dan Humanis Bangun Disiplin Berbasis Budaya

/ Rabu, 25 Februari 2026 / 18.06.00 WIB

Kepala SMAN 6 Padangsidimpuan Hasmaruddin Nasution M.Pd 

POSKOTASUMATERA.COM–TAPSEL – Upaya penguatan karakter dan budaya disiplin terus diimplementasikan secara sistematis di SMAN 6 Padangsidimpuan melalui program guru piket keliling yang dilaksanakan setiap hari sekolah. Sejak pagi, para guru telah bersiaga di gerbang, menyapa siswa dengan ramah, memantau kehadiran, hingga berkeliling di lorong dan halaman sekolah. 


Kehadiran ini bukan sekadar fungsi kontrol, melainkan representasi pendekatan pedagogis yang menempatkan guru sebagai figur pembimbing dan penguat karakter.

Secara konseptual, program ini mengadopsi prinsip active supervision atau pengawasan berbasis kehadiran aktif yang dalam kajian manajemen pendidikan terbukti efektif menekan potensi pelanggaran tata tertib.


 Pendekatan ini bekerja melalui visibilitas otoritas yang konsisten, interaksi interpersonal yang positif, serta deteksi dini terhadap potensi gangguan lingkungan belajar. Dengan sistem jadwal piket yang terstruktur, pengawasan tidak hanya terfokus pada ruang kelas, tetapi mencakup seluruh ekosistem sekolah.


Menariknya, pengawasan diperluas hingga area sekitar sekolah, termasuk kawasan Jalan KH Jubeir Ahmad, lingkungan MIN 1 Padangsidimpuan, serta Jalan Sutan Soripada Mulia. Strategi ini mencerminkan pendekatan preventif berbasis komunitas (community-based monitoring), di mana sekolah hadir sebagai pusat kontrol sosial yang membangun rasa aman dan kepedulian bersama terhadap peserta didik.


Dari perspektif psikologi pendidikan, kehadiran guru secara aktif di ruang-ruang sosial siswa mampu meningkatkan rasa keterhubungan (sense of belonging) dan keamanan emosional. Siswa tidak merasa diawasi dalam konteks represif, melainkan didampingi. Setiap teguran disampaikan dengan komunikasi empatik, sehingga kesalahan diposisikan sebagai proses belajar. Model ini selaras dengan paradigma pendidikan restoratif yang mengedepankan pemulihan relasi dibanding sekadar pemberian sanksi.


Yang menjadi kekuatan khas sekolah ini adalah integrasi nilai kearifan lokal melalui filosofi Dalihan Natolu, warisan budaya Batak Angkola-Mandailing. Konsep relasional antara Kahanggi, Anak Boru, dan Mora diterjemahkan dalam praktik musyawarah, empati, dan keseimbangan sosial saat menyelesaikan persoalan siswa. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa teori pendidikan modern dapat berjalan harmonis dengan nilai tradisional yang hidup dalam masyarakat.


Filosofi “Somba Marmora, Manat-manat Markahanggi, Elek Maranak Boru” menjadi landasan etis dalam komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua. Nilai hormat, kehati-hatian, dan kasih sayang diterapkan dalam tindakan konkret sehari-hari. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak hanya bersifat normatif, tetapi kontekstual dan berakar pada identitas budaya lokal.


Kepala SMAN 6 Padangsidimpuan, Hasmaruddin Nasution, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa guru profesional bukan hanya unggul dalam kompetensi akademik, tetapi juga kuat dalam keteladanan moral. Program guru piket keliling, menurutnya, merupakan simbol komitmen kolektif membangun disiplin yang berbasis nilai dan kepedulian. Melalui sinergi pengawasan aktif dan kearifan lokal, sekolah ini menunjukkan bahwa institusi pendidikan modern mampu menjadi ruang pembentukan karakter yang ilmiah, humanis, dan berbudaya. (PS/BERMAWI)

Komentar Anda

Terkini: