POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL — Suasana hearing dialog DPRD Tapanuli Selatan di Kecamatan Angkola Selatan, Senin (9/2/2026), mendadak berubah hening ketika data literasi siswa dipaparkan. Di balik angka-angka yang terlihat sederhana, tersimpan kenyataan yang menggugah hati: di tengah derasnya arus digitalisasi dan kurikulum modern, masih ada siswa sekolah menengah pertama yang belum mampu membaca dengan lancar. Fakta ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan di wilayah tersebut.
Kepala SMP Negeri 1 Angkola Selatan mengungkapkan fakta yang menyentuh sekaligus mengkhawatirkan. Dari sekitar 300 siswa yang menempuh pendidikan di sekolah itu, terdapat 11 siswa yang belum mampu membaca. Di ruang kelas, mereka duduk bersama teman sebaya, mengikuti pelajaran yang sama, namun memikul beban yang berbeda—berjuang memahami huruf demi huruf di saat pelajaran terus berjalan. Kondisi ini tidak sekadar persoalan akademik, tetapi juga menyangkut rasa percaya diri, motivasi belajar, dan masa depan anak-anak tersebut.
Fenomena serupa juga muncul di sekolah lain. SMP Negeri 4 Angkola Selatan mencatat dua siswa dengan kesulitan membaca, sementara SMP Negeri 3 Angkola Selatan menemukan lima siswa dengan kondisi yang sama. Jika ditarik lebih jauh, gambaran ini menunjukkan adanya kesenjangan kemampuan literasi dasar yang belum sepenuhnya tertangani sejak jenjang pendidikan sebelumnya.
Situasi di tingkat sekolah dasar bahkan menjadi perhatian lebih besar. Dari 21 SD di Kecamatan Angkola Selatan, masih terdapat siswa kelas IV hingga VI yang belum mampu membaca dengan baik. Para pendidik menyebut kondisi ini sebagai learning loss, dampak panjang dari berbagai faktor, mulai dari pandemi, keterbatasan pendampingan belajar di rumah, hingga ketimpangan akses pendidikan yang masih terasa di sejumlah wilayah.
Dalam dialog yang berlangsung hangat dan penuh keprihatinan, para kepala sekolah memaparkan beragam penyebab. Metode pengajaran membaca yang perlu dievaluasi, kebutuhan peningkatan kompetensi guru dalam strategi literasi dasar, hingga minimnya budaya membaca di rumah menjadi sorotan utama. Para guru sepakat bahwa peran keluarga sangat menentukan, karena kebiasaan membaca di rumah terbukti menjadi fondasi penting bagi kemampuan literasi anak.
Ketua Komisi C DPRD Tapanuli Selatan, Sawal Pane, bersama anggota Armen Sanusi, Bontor Panjaitan, Baginda Pulungan, Mhd Rawi Ritonga, dan Bahri Gunawan, menyampaikan keprihatinan mendalam. Mereka menegaskan bahwa krisis literasi bukan sekadar soal nilai rapor, melainkan menyangkut masa depan generasi muda. Tanpa kemampuan membaca yang kuat, akses anak terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan peluang ekonomi akan semakin terbatas.
Kisah sebelas siswa di SMP Negeri 1 Angkola Selatan menjadi simbol nyata tantangan tersebut. Mereka berasal dari berbagai sekolah dasar di wilayah setempat—SDN 100208 Siamporik Dolok, SDN 100213 Kampung Lalang, SDN 100210 Tanjung Siopat Opat, SDN 100206 Pintu Padang, SDN 100212 Aek Natas, hingga SDN 100202 Napa.
Setiap nama membawa harapan bahwa pendidikan harus mampu menjangkau semua anak tanpa terkecuali. Hearing dialog ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, dinas pendidikan, sekolah, dan masyarakat. Program remedial literasi, penguatan kapasitas guru, serta pendampingan intensif bagi siswa menjadi langkah prioritas yang diharapkan segera diwujudkan. Di Angkola Selatan, setiap huruf yang berhasil dibaca kini dipandang sebagai langkah kecil menuju masa depan yang lebih terang. (PS/BERMAWI)

