POSKOTASUMATERA.COM–TAPSEL — Suasana religius dan penuh kekhusyukan menyelimuti keluarga besar SMPN 2 Marancar saat memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah sekaligus menyambut Bulan Suci Ramadhan 1447 H/2026. Kegiatan yang berlangsung di Pasar Sempurna, wilayah Tapanuli Selatan pada Senin (9/2/2026) ini menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus penguatan karakter siswa di tengah derasnya arus transformasi digital.
Kegiatan ini juga dipublikasikan melalui POSKOTASUMATERA.COM sebagai bagian dari edukasi publik tentang penguatan nilai keagamaan di sekolah.
Mengusung tema “Menghidupkan Kembali Semangat Isra Mi’raj di Era Digital”, peringatan ini dirancang tidak hanya sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai pendekatan edukatif yang relevan dengan kehidupan generasi digital. Siswa diajak memahami perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW sebagai inspirasi dalam membangun etika, disiplin, dan tanggung jawab, baik di dunia nyata maupun ruang maya yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pelajar.
Kehadiran orang tua, guru, dan seluruh peserta didik menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat dan kolaboratif. Secara sosiologis, keterlibatan keluarga dalam kegiatan sekolah terbukti meningkatkan efektivitas pendidikan karakter. Interaksi langsung antara orang tua dan siswa dalam ruang spiritual seperti ini memperkuat relasi emosional, sekaligus menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih holistik dan berkelanjutan.
Kepala sekolah Ratna Dewi Harahap S.Pd dalam sambutannya menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual. Ia mengajak siswa untuk mempraktikkan literasi digital secara bertanggung jawab—mampu memilah informasi, menjaga etika bermedia sosial, serta menjadikan teknologi sebagai sarana kebaikan.
Menurutnya, nilai Isra Mi’raj relevan sebagai pedoman moral dalam menghadapi tantangan era informasi.
Dari perspektif pendidikan modern, integrasi nilai religius dengan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa fondasi spiritual berperan sebagai kompas moral dalam menghadapi banjir informasi. Dengan pendekatan ini, sekolah berharap siswa tumbuh menjadi generasi adaptif yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki ketahanan moral dan sosial.
Rangkaian kegiatan diisi tausiyah oleh Miswaruddin, doa bersama, serta aktivitas reflektif yang menyentuh sisi emosional peserta. Secara psikologis, kebersamaan dalam kegiatan keagamaan terbukti mampu meningkatkan empati, rasa kebersamaan, dan identitas sosial sebagai komunitas yang religius serta harmonis. Banyak siswa tampak khusyuk berdoa, sementara guru dan orang tua larut dalam suasana haru.
Melalui momentum Isra Mi’raj ini, SMPN 2 Marancar menegaskan komitmennya dalam menyiapkan generasi muda yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan zaman. Diharapkan, semangat spiritual yang tumbuh tidak berhenti pada seremoni, tetapi terus hidup dalam perilaku siswa—baik di dunia nyata maupun ruang digital—sebagai bekal menyongsong Ramadhan dengan hati yang lebih siap dan iman yang lebih kuat.(PS/BERMAWI)


