Oleh: SyaOmsul Lubis, S.Pd., M.Pd – Pengurus ABTI Sumut POSKOTASUMATERA.COM-PADANGSIDIMPUAN-Di sebuah lapangan sekolah sederhana di Sumatera Utara, suara pantulan bola terdengar nyaring di pagi hari. Anak-anak berlari, tertawa, dan sesekali bersorak ketika gol tercipta. Mungkin bagi sebagian orang permainan itu masih terasa asing, tetapi bagi mereka, handball telah menjadi mimpi baru. Dari kota hingga pelosok desa, olahraga bola tangan perlahan menemukan tempat di hati generasi muda Sumut.
Perjalanan handball di Sumatera Utara tidak terjadi dalam semalam. Pengurus Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI) Sumut menempuh jalan panjang: menyosialisasikan olahraga ini ke kampus, sekolah dasar, hingga SMA. Kini, handball tidak lagi hanya dimainkan di lingkungan perguruan tinggi, tetapi telah menjadi ekstrakurikuler di berbagai sekolah.
Upaya pemassalan ini menjadi fondasi penting untuk membentuk tim Sumatera Utara yang tangguh di masa depan.Kerja keras itu mulai berbuah manis. Pada Kejuaraan Nasional Handball 2025 di Pontianak, tim Sumatera Utara sukses membawa pulang tiga medali: emas untuk kategori putri outdoor, perak untuk putra outdoor, dan perunggu untuk putri beach handball.
Prestasi ini bukan sekadar angka di papan klasemen, tetapi menjadi sumber kebanggaan dan motivasi bagi anak-anak Sumut—terutama dari wilayah Tapanuli Bagian Selatan—untuk bermimpi mengenakan jersey Merah Putih suatu hari nanti.Di balik prestasi tersebut, ada gerak kolektif yang tak terlihat. Diterimanya ABTI sebagai bagian dari KONI serta lahirnya berbagai turnamen seperti Piala Gubernur Sumatera Utara menjadi tanda bahwa handball semakin diakui. Rencana penyelenggaraan Piala Wali Kota dan Piala Bupati di berbagai daerah pun menjadi bukti bahwa pembinaan olahraga ini terus bergerak, tumbuh, dan mengakar di tengah masyarakat.
Namun perjalanan menuju puncak prestasi tentu tidak mudah. ABTI Sumut menyiapkan langkah konkret melalui pemanduan bakat sejak usia dini, kompetisi berjenjang, serta peningkatan kapasitas pelatih dan wasit. Kini, para kader telah dipercaya memimpin pertandingan di berbagai event. Sistem pembinaan yang semakin terarah mulai melahirkan atlet muda dengan teknik, mental, dan pemahaman taktik yang semakin matang.
Kompetisi yang terorganisasi menjadi napas bagi regenerasi atlet. Setiap turnamen menghadirkan ruang bagi talenta baru untuk muncul, berkembang, dan bersaing secara sehat. Ke depan, handball di Tabagsel ditargetkan masuk ke kurikulum sekolah dan kampus, didukung liga kelompok usia yang berkelanjutan. Harapannya, ekosistem olahraga ini akan semakin hidup, seperti futsal dan basket yang lebih dahulu digandrungi anak muda.
Handball memiliki kelebihan yang membuatnya mudah diterima: lapangan tidak harus luas, aturan sederhana, dan tempo permainan cepat serta atraktif. Dari lapangan sekolah hingga GOR sederhana, siapa pun bisa bermain. Dengan konsistensi event antar sekolah, kampus, dan daerah, mimpi besar itu perlahan disusun—membangun pondasi kuat agar handball Sumatera Utara melangkah mantap menuju pentas juara.(PS/BERMAWI)
