Kepala SMPN 1 Angkola Selatan Muhammad Gong Matua,( kiri ) Bersama Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Tapanuli Selatan Sawal Pane (Kanan)
POSKOTASUMATERA.COM–TAPSEL – Suasana hangat dan penuh harap menyambut kedatangan Ketua Komisi C DPRD Tapanuli Selatan, Sawal Pane, beserta rombongan saat melakukan kunjungan kerja ke SMPN 1 Angkola Selatan. Kunjungan ini bukan sekadar agenda formal kelembagaan, melainkan menjadi ruang dialog yang mempertemukan harapan guru, semangat siswa, dan komitmen legislatif dalam memperkuat mutu pendidikan daerah.
Di ruang pertemuan sederhana sekolah, percakapan berlangsung terbuka. Kepala sekolah, Muhammad Gong Matua, menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan Komisi C. Ia menilai kehadiran legislatif secara langsung ke sekolah menghadirkan energi positif bagi seluruh warga sekolah.“Ini bukan hanya kunjungan, tetapi dukungan moral yang memotivasi kami untuk terus berbenah,” ungkapnya dengan penuh optimisme.
Isu literasi menjadi fokus utama dalam diskusi tersebut. Data sekolah menunjukkan bahwa sebelumnya terdapat 11 siswa yang belum lancar membaca. Melalui program remedial, pendampingan intensif, dan kolaborasi guru dengan orang tua, jumlah itu kini menurun menjadi 4 siswa. Di balik angka tersebut, tersimpan kisah kerja keras guru yang sabar membimbing, serta siswa yang berjuang mengejar ketertinggalan dengan tekad yang tidak sederhana.
Sawal Pane menegaskan bahwa peningkatan literasi dasar adalah fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia daerah. Ia menekankan pentingnya kebijakan berbasis data agar setiap intervensi pendidikan tepat sasaran. “Mutu pendidikan tidak cukup diukur dari gedung dan fasilitas, tetapi dari sejauh mana anak-anak kita mampu membaca, memahami, dan berpikir kritis,” ujarnya.
Selain berdialog, rombongan Komisi C juga meninjau langsung proses pembelajaran di kelas. Interaksi sederhana dengan siswa menjadi momen yang mengharukan. Beberapa siswa tampak antusias menunjukkan buku bacaan mereka, sementara guru dengan penuh dedikasi menjelaskan metode pembelajaran yang diterapkan untuk mempercepat kemampuan literasi.Pendekatan ini mencerminkan praktik pengambilan kebijakan berbasis kondisi riil di lapangan.
Secara lebih luas, kolaborasi antara legislatif dan satuan pendidikan mencerminkan model tata kelola pendidikan modern yang akuntabel dan partisipatif. Dukungan regulasi, penganggaran, serta pemetaan kebutuhan guru yang proporsional menjadi bagian penting dalam memastikan mutu pembelajaran meningkat secara berkelanjutan. SMPN 1 Angkola Selatan menjadi contoh bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil yang konsisten.
Kunjungan ini pun meninggalkan pesan mendalam: pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Dengan sinergi antara sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat, harapan untuk menghadirkan pendidikan yang inklusif dan bermutu bukanlah sesuatu yang utopis. Di sudut Angkola Selatan, semangat itu kini tumbuh—pelan namun pasti—demi masa depan generasi yang lebih literat dan berdaya saing.(PS/BERMAWI)
