POSKOTASUMATERA.COM – TAPSEL – Suara sirene latihan memecah keheningan pagi di Afdeling III Aek Pahu, Kebun Batang Toru, Rabu (18/2/2026). Di antara hamparan hijau perkebunan yang membentang di wilayah Batang Toru, Ratusan karyawan berdiri siaga, mengikuti instruksi evakuasi. Bukan karena bencana benar-benar datang, melainkan karena kesadaran bahwa alam bisa berubah sewaktu-waktu.
Hari itu, sinergi antara Badan Penanggulangan Bencana Daerah Tapanuli Selatan dan PTPN IV Regional I diwujudkan dalam pelatihan, sosialisasi, dan simulasi tanggap banjir serta tanah longsor.
Bagi para pekerja kebun, ancaman banjir dan longsor bukan sekadar teori. Curah hujan tinggi, kontur lereng yang curam, serta perubahan tutupan lahan menjadikan kawasan ini rentan terhadap bencana hidrometeorologi.
Kepala Bidang Pencegahan BPBD Tapsel, Kabid Pencegahan Handi Batubara S. Kom , mengingatkan bahwa memahami risiko berarti menjaga nyawa. “Kesiapsiagaan bukan soal takut, tapi soal peduli pada diri sendiri dan rekan kerja,” ujarnya di hadapan peserta.
Di sela simulasi, terlihat wajah-wajah serius namun penuh semangat. Mereka belajar mengenali tanda-tanda awal longsor—retakan tanah kecil yang kerap diabaikan, pohon yang mulai miring, hingga perubahan warna air sungai.
Pengetahuan ilmiah tentang kejenuhan tanah dan tekanan air pori dijelaskan dengan bahasa sederhana, agar mudah dipahami dan diingat. Bagi para pekerja lapangan, pemahaman ini menjadi bekal berharga yang bisa menyelamatkan keluarga mereka di rumah.
Simulasi evakuasi menjadi momen paling menyentuh. Dengan tertib, para karyawan mempraktikkan penyelamatan diri dan dokumen penting, serta berkoordinasi dengan tim tanggap darurat internal kebun. Latihan berulang ini dirancang untuk membentuk refleks cepat saat keadaan darurat sungguhan terjadi.
Dalam suasana penuh kesadaran, terbangun rasa saling menjaga—bahwa keselamatan satu orang adalah tanggung jawab bersama.Tak hanya soal teknis, pelatihan ini juga menekankan pentingnya komunikasi risiko. Informasi peringatan dini harus mengalir cepat dan jelas, dari pimpinan hingga pekerja di titik paling rawan.
Sistem komunikasi internal yang terstruktur di lingkungan perkebunan dinilai menjadi kekuatan tersendiri dalam mempercepat respons. Di sinilah kolaborasi antara pemerintah daerah dan dunia usaha menemukan maknanya: membangun ketangguhan berbasis kebersamaan.
Secara lebih luas, langkah ini sejalan dengan upaya nasional dalam pengurangan risiko bencana yang mendorong keterlibatan sektor industri. Perusahaan tidak lagi hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada perlindungan sumber daya manusia dan keberlanjutan lingkungan.Di kawasan seperti Batang Toru, di mana alam dan aktivitas ekonomi berjalan berdampingan, keseimbangan tersebut menjadi kunci masa depan.
Di penghujung kegiatan, senyum lega tampak di wajah para peserta. Mereka kembali ke rutinitas, namun dengan kesadaran baru.Pelatihan ini bukan sekadar agenda formal, melainkan investasi kemanusiaan. Ketika hujan deras kembali turun di Batang Toru, para pekerja kini tak lagi hanya berharap cuaca bersahabat—mereka telah dibekali ilmu, kesiapsiagaan, dan semangat solidaritas untuk menghadapi kemungkinan terburuk dengan lebih tangguh dan percaya diri.(PS/BERMAWI)


