POSKOTASUMATRA.COM – ACEH TENGGARA – Memasuki pekan kedua Ramadan 1447 Hijriah, geliat ekonomi musiman di wilayah Aceh Tenggara justru menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Pedagang takjil yang biasanya meraup berkah di bulan suci, kini mengaku harus menelan kenyataan pahit akibat sepinya pembeli.
Pantauan poskotasumatra.com di sejumlah titik penjualan takjil di pusat Kota Kutacane dan Pasar Kuning, Sabtu (28/02/2026), suasana tampak berbeda dibanding awal Ramadan. Lapak-lapak kolak, gorengan, es buah, dan aneka kue basah terlihat lengang. Tak sedikit dagangan yang masih tersisa hingga waktu berbuka tiba.
Pikar (30), pedagang Kurma yang sudah berjualan setiap Ramadan, mengaku omzetnya turun drastis dalam beberapa hari terakhir. Ia memperkirakan penurunan pendapatan mencapai 40 hingga 50 persen dibanding pekan pertama puasa.
“Awal puasa masih ramai. Sekarang jauh berkurang. Kadang tidak habis terjual,” keluhnya.
Hal serupa disampaikan Monika (24), pedagang gorengan di kawasan pusat kota. Ia mengaku terpaksa mengurangi jumlah produksi setiap hari untuk menghindari kerugian lebih besar.
“Kalau dipaksakan banyak, malah tidak balik modal. Minyak naik, gula naik, santan juga mahal,” ujarnya kepada poskotasumatra.com, Sabtu (28/02/2026) Sore.
Menurut para pedagang, melemahnya daya beli masyarakat menjadi faktor utama. Sejumlah warga memilih memasak sendiri menu berbuka di rumah demi menghemat pengeluaran. Di sisi lain, kenaikan harga bahan pokok membuat pedagang sulit menaikkan harga jual karena khawatir pembeli semakin berkurang.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius. Ramadan yang selama ini menjadi momentum perputaran uang di sektor mikro justru terasa lesu. Jika pedagang takjil saja mengalami penurunan omzet signifikan, bagaimana dengan sektor informal lainnya?
Secara ekonomi, lesunya penjualan takjil berdampak langsung pada perputaran uang di tingkat bawah. Pendapatan keluarga pedagang menurun, konsumsi rumah tangga ikut ditekan, dan aktivitas ekonomi lokal berpotensi melambat.
Situasi ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Publik berharap adanya langkah konkret, mulai dari pengendalian harga bahan pokok hingga penguatan program pemberdayaan UMKM agar benar-benar menyentuh pelaku usaha kecil.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pemerintah daerah terkait strategi menjaga stabilitas daya beli masyarakat selama Ramadan tahun ini.
Ramadan seharusnya menjadi berkah bagi pedagang kecil. Namun di Aceh Tenggara, bulan suci ini justru menjadi ujian berat di tengah tekanan ekonomi yang kian terasa. (PS/AZHARI)

